Kata Pengantar


Assalamu`alaykum Wr.Wb.


Bapak, ibu, saudara/i dan sahabat sekeluarga yang dirahmati Allah SWT:


Kami menyambut dengan gembira keberadaan website Pengajian-Columbus yang digagas oleh beberapa anggota jemaah Pengajian-Columbus pada pertemuan awal, tanggal
29 Maret 2008 (21 Rabil’ul Awal 1429H). Pertama-tama kami ucapkan puji syukur kehadirat Illahi Rabbi, shalawat dan salam tercurah kepada jujungan kita, Nabiallah, Rasulullah SAW. Alhamdulillah, kita semua masih diberikan nikmat iman Islam. Terima kasih atas waktu yang telah diluangkan oleh beberapa kawan-kawan sekalian sehingga terwujudnya website ini.

Keberadaan website ini, yang insya Allah, selain akan mengintensifkan silaturrahim di antara anggota masyarakat Muslim Indonesia di Columbus, Ohio dan sekitarnya, seperti Athens, Dayton, Cleveland dan Toledo juga dapat menambah dan membagi informasi, pengetahuan dan wawasan bagi kita semua. Begitu pula untuk sebagian dari kita yang sekarang tinggal di luar Ohio.

Pengajian-Columbus adalah wadah untuk komunikasi dan memperdalam pengetahuan agama (dakwah) bagi siapa saja yang berminat memakmurkannya. Selain itu pengajian ini baik yang dua mingguan maupun yang bulanan/waktu-waktu tertentu berfungsi sebagai wadah untuk saling mengajak kepada kebaikan serta menjaga diri dari perbuatan yang merugikan atau merusak; saling menasehati dan mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran dengan beristiqomah. Adanya tempat berkumpul yang diisi dengan pengajian untuk menanamkan nilai-nilai etika-moral dan spiritual bagi keluarga kita adalah hal yang tidak terkira nilainya dalam kehidupan bermasyarakat seperti di Columbus, Ohio ini.


Era informasi dan globalisasi memang menuntut pendekatan dan cara-cara baru termasuk dalam penanaman dan sosialisasi nilai-nilai agama. Teknologi komunikasi seperti internet yang terus mengalami kemajuan luar biasa pesat sebagaimana juga sarana yang lain bisa berdampak positif maupun negatif, bisa bermanfaat atau pun merusak, menyebarkan kebaikan ataupun juga keburukan. Penyebaran pengetahuan, ide, nilai-nilai dan gaya hidup adalah di antara yang paling kita rasakan. Budaya konsumtif atau konsumerisme dan pop culture adalah yang paling cepat penyebarannya, terutama bagi warga muda, dalam hal ini anak-anak, generasi penerus kita. Konsumerisme membawa pada materialisme di mana manusia lebih tertarik pada pemilikan barang atau benda yang memberi kenikmatan fisik-jasmani dan kepuasan lahiriah yang artifisial ketimbang nilai-nilai kemanusiaan dan kebahagiaan batin. Demikian pula budaya pop lebih berfungsi untuk menggairahkan dorongan nafsu rendah yang mematikan jiwa dan kerohanian.


Diharapkan banyak sahabat lainnya warga Pengajian ini yang dapat mengisinya. Semoga pula website ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk tujuan yang telah dijelaskan di atas. Kami dapat dihubungi melalui:



Wassalam,

Kordinator Pengajian-Columbus



Tuesday, May 14, 2013

Pelunturan Aqidah - Beginilah Cara Mereka Menghancurkan Akhlaq Kita

(disadur dan dituliskan kembali dari beberapa tulisan dari blog lain)

Ada suatu tulisan yang sifatnya mengingatkan kita semua umat Islam dimana saja kita berada. Terutama yang bersangkut paut erat sekali dengan keimanan kita dan bagaimana kita membentenginya agar tidak ditembus oleh sifat dunnya yang mudah terlena dan menyesatkan. Marilah kita simak bersama tulisan tersebut dibawah ini:

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari'at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus.

Ibu Guru berkata, "Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!"

Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah ''Penghapus!'',

jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!".

Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya.

Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain.

Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. ''Paham Bu Guru''

"Baik permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan.

"Bu Guru ada Qur'an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu "dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet.

Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?" Murid-muridnya berpikir.

Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah.

Orang biasa pun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.

Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pondasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.

Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…"

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian.

Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari'at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan."

"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?" tanya mereka.

Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo'a dahulu sebelum pulang …"

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya. Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikir (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam.

Berikut adalah beberapa strategi mereka untuk menghancurkan umat Islam – antara lain dengan memutar balikan fakta serta penggunaan kata yang mengecoh (mencampur adukan sesuatu yang bathil dari yang haq):

(1) redefinisi istilah-istilah bathil sehingga menjadi mirip istilah haq:
a. demokrasi = musyawarah
b. sekulerisme = tidak fanatik mazhab
c. liberalisme = bebas dari rasa takut
d. kapitalisme = mekanisme pasar

(2) menggulung khilafah sedikit demi sedikit dan akhirnya untuk mengatur urusan publik, Qur'an & Sunnah diganti dengan UU buatan demokrasi.

Allah Subhanna Wa Ta'ala berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu."(QS. At Taubah: 32)

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim.
Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa untuk kita – audience nya. Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita yang seharusnya??


MENGINGATKAN DIRI KITA SATU SAMA LAIN SEBAGAI SEORANG MUSLIM YANG TAAT:

Untuk menjawab peringatan diatas – mengenai sikap kita yang seharusnya, saya teringat dengan surat Al Fath.

Diakhir surat ini (48:29), Allah Subhanna Wa Ta’ala berfirman: 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” 

Dari isi surat diatas Allah Subhanna Wa Ta’ala sendiri yang sengaja membedakan umat muslim dengan kaum kafir. Hal mana tidak lain dari keinginan Allah Rabbal Alamin sendiri untuk membuat dengki kaum kafir dengan membedakannya dengan umat Muhammad Sallallahu Alayhi Wasallam. Yang mana akhirnya Allah Subhanna Wa Ta’ala kemudian memenangkan (Al Fath = Kemenangan) umat muslim. Untuk itulah sebagai umat pengikut Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam, kita mempunyai lima identitas (jati diri) tersendiri. Lima jati diri tadi dapat kita urutkan sebagai berikut:

Identitas yang pertama, yaitu sebagai seorang muslim kita harus mempunyai sikap “Asyida u alal kufar.”

Seorang muslim harus tegas kepada orang kafir. Apa yang dimaksud disini dengan ketegasan sikap kita terhadap mereka? Apakah kita harus mengajak perang mereka, apakah kita harus bermusuhan dengan mereka, apakah kita harus bersikap tidak toleransi kepada mereka?

Kalau saja kita mau menggali dari sumbernya, sangat banyak sekali dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang mengajarkan bab toleransi kepada umat muslim. Menurut pendapat saya, sikap yang timbul dalam masyarakat sekarang ini disebabkan karena ketidak fahaman atau kesalah fahaman dalam mengartikan sikap toleransi kita pada umat agama lain.

Terutama umat muslim yang hidup dijaman yang modern ini. Seharusnya kita mengerti dan menyadari bahwa dilingkungan hidup kita ini sarat dengan fatamorgana-fatamorgana yang dapat mengecohkan dan sangat membahayakan mata-hati kita/aqidah kita. Terutama untuk kita yang keyakinan (aqidahnya) masih mudah tergoyahkan.

Bukalah hati dan pikiran kita sebagi muslim, maka dapat dengan jelas kita lihat contoh-contoh keyakinan semu yang dapat menggoyahkan kita. Bahkan mungkin kita pernah mendengarkan atau ada yang mengatakan kepada kita: ”Sudahlah … sudahlah tidak perlu fanatik! Beragama jangan begitu, tidak perlu terlalu ekstrim dsb dsb” 

Jadi dengan kata lain bentuk toleransi seorang muslim dapat diputar balikan sebagai berikut; Saat Waisak, waisakan. Saat Rajab, rajaban. Saat Natal, natalan. Kemudian hati kita membenarkan? 

Bahkan lebih jauh lagi dapat kita lihat contoh-contoh seperti: Seminarinya orang katolik yang dirubah namanya di Indonesia sebagai “Pesantren Katolik.” Juga ada sekolah-sekolah kristen di Jawa Tengah yang sudah berganti nama dengan sebutan “Madrasah Alkitab.” Masya Allah, mudah-mudahan kita terhindar dari semua plesetan-plesetan tersebut.

Istilah-istilah inilah yang menurut saya adalah sangat samar dan sangat rancu serta menyesatkan umat Islam (kristenisasi terselubung). Orang yang masih mudah dan goyah keimanannya berpendapat bahwa semua agama itu benar.

Bila seorang muslim sudah mempunyai mental yang demikian, maka berarti dia sudah menghancurkan aqidah keimannya sebagai muslim.

Karena seeorang muslim/muslimah seharusnya mempunyai keyakinan bahwa Semua agama itu benar (koma), bagi pengikutnya masing2.” Keluar kita harus memperingati sesama muslim agar tidak terkecoh hasutan-hasutan yang menyesatkan ini. Sedang kedalam kita harus memagari diri kita dengan membentengi diri dan keluarga kita sejalan dengan selalu memperkuat keimanan kita. 

Dengan kata lain, kita wajib berprinsip “Lakum diinukum wa liya diin” (QS 109:6). Bagi seorang muslim harus berpandangan, hanya Islamlah agama Allah satu-satunya yang hak dan benar.

Jelas-jelasan Allah Subhanna Wa Ta'ala berfirman serta mengingatkan kita umat Islam melalui kitab NYA yang diturunkan kepada Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam dalam surat Al Kafirun tersebut diatas “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” 

Secara gamblangnya kita harus meyakini dengan keimanan yang mendalam bahwa Islam sajalah satu-satunya agama Allah yang hak. Silahkan tuan-tuan meyembah agama tuan, bagi antum agama antum, bagi ana agama ana. 

Hal ini bukan berarti kita umat Islam tidak toleran terhadap agama lain. Tetapi jangan lupa, karena Allah Subhanna Wa Ta'ala sendiri yang menjamin bahwa hanya Islam sajalah agama yang hak diakui oleh Allah Subhanna Wa Ta'ala. Hal inilah yang diharapkan dengan sikap yang tegas dari seorang muslim/muslimah.

Sekali lagi sangat perlu digaris bawahi disini, bahwa bagi seorang muslim yang tidak mempuyai sikap yang demikian maka akan runtuhlah aqidahnya (keimannya), karena dia mengartikan bahwa agama lain itu juga benar dalam keimanannya. Hal ini akan membawa seseorang ketingkat syrik yang berarti menduakan agama Allah yang hak dengan agama lain. Yang berarti juga menyamakan Tuhan nya agama lain dengan Allah Subhanna Wa Ta'ala. Sedang syrik adalah perbuatan yang oleh Allah Subhanna Wa Ta'ala tidak akan ada ampunannya sama sekali karena sikap yang menyekutukan Allah Subhanna Wa Ta'ala dengan hal yang lain (wa nauzu billahi min dzalik). 

Rukun Iman pertama dalam Islampun menegaskan hal ini bahwa setiap muslim harus mempunyai keyakinan bahwa hanya Allah Subhanna Wa Ta'ala sajalah Tuhan yang satu yang kita sembah, tidak ada Tuhan selain NYA.

Identitas yang kedua, yaitu seorang muslim itu harus Kasih sayang untuk semua umat “rahmatan lil alamin.”

Umat Islam adalah umat yang di rahmati Allah Subhanna Wa Ta’ala dan kasih sayang kepada sesama. Apalagi kepada sesama muslim dimana saja. Bila semua umat muslim bersatu dimuka bumi Allah ini, maka musuh kita akan kalah. Tapi bila kita terpecah belah, mereka akan dengan mudah mengalahkan kita.

Sayangnya hal ini banyak sekali sekarang, terkadang kita melihat umat muslim yang seperti buih dilautan. Banyak sekali jumlahnya tapi mudah sekali diombang-ambingkan kesana kemari oleh yang bukan muslim (kafir). Penyebabnya tiada lain karena sebagian dari kita umat muslim terlalu cinta sekali dengan dunia dan melupakan akherat. Janganlah kita korbankan keabadian nikmat akherat yang kekal dengan kenikmatan dunia yang hanya sementara saja sifatnya.

Identitas yang ketiga, yaitu seorang muslim itu selalu mengharapkan “Ridho Allah.”

Seorang muslim harus yakin bahwa ada hidup sesudah mati dan ada akherat sesudah dunia. Berusahalah sekuat tenaga kita untuk mencari ridho Allah seakan-akan kita akan hidup beribu-ribu tahun lagi. Bertobat dan perkuatlah keimanan dalam diri kita masing-masing seakan-akan kita akan mati besok.

Kita harus selalu berprinsip bahwa apa-apa yang kita dapati dalam kehidupan kita sebagai rezeki Allah Subhanna Wa Ta'ala yang diridhoi Nya. Yang kita makan yang Allah ridho. Yang kita minum yang Allah ridho. Yang kita pakai juga yang Allah ridho dan lain sebagainya yang Allah ridhoi. 

Sayapun disini ingin sekali mengingatkan diri saya sendiri dan keluarga saya bahwa kita harus bekerja keras meluruskan keridhoan Allah Subhanna Wa Ta'ala didalam keluarga.

Identitas yang keempat, yaitu seorang muslim harus mendirikan “Shalat lima Waktu sehari semalam (Ruku dan Sujud).”

Umat Islam bukan saja diwajibkan "melaksanakan" shalat, tetapi harus "mendirikan" shalat. Shalat tidak hanya sekadar gerakan dan bacaan yang sifatnya ritual-individual, tetapi harus berdampak pada perilaku kita sehari-hari. Bahwa shalat merupakan "tiang agama" (imaduddin), dan yang tidak melaksanakannya berarti meruntuhkan agamanya, kita sudah sama-sama mahfum. Demikian pula bahwasanya shalat dapat mencegah diri pelakunya dari perbuatan keji dan munkar. Hal ini dijelaskan dalam surat Al An Kabuut ayat ke 45 sbb:

Allah Subhanna Wa Ta'ala berfirman: 

bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Masalahnya sekarang, mengapa tidak sedikit seorang muslim yang rajin melaksanakan shalat, tetapi perbuatan keji dan munkar tetap saja dilakukannya. Tentang hal ini, Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam pernah menyatakan, orang itu bukannya semakin dekat pada Allah Subhanna Wa Ta'ala melainkan semakin jauh (bu'da).

Bisa jadi, shalat yang tidak membuat seseorang menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar adalah shalat yang dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban dan "asal jadi". Kekhusyukan dan kesempurnaannya kurang diperhatikan. Atau karena shalat yang dilakukannya tidak berlandaskan keikhlasan melainkan riya, ingin dipuji orang, atau bermotif duniawi.

Firman Allah Subhanna Wa Ta'ala lainnya dalam surat Al Maa’uun berbunyi sbb: 

“Celakalah orang-orang yang shalat; yaitu orang yang lalai dalam shalatnya dan mereka yang riya (dalam shalatnya).” 

Shalat yang sesunguhnya bukanlah sekadar hanya melaksanakan gerakan dan bacaan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seorang Muslim bukan hanya dituntut "melaksanakan" shalat, tetapi "mendirikan" shalat (aqama shalah). Artinya, shalat tidak hanya sekadar gerak badan dan bacaan (ritual-individual) seperti orang berolah raga, tetapi harus pula tercermin dalam perilaku sehari-hari (shalat sosial). Semua pengakuan Allah Subhanna Wa Ta'ala sebagai Tuhan dan Muhammad Sallallahu Alayhi Wasallam sebagai Rasul, harus terbuktikan dalam perilaku kita sehari-hari, yang berupa ketaatan terhadap semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Shalat adalah simbol kepasrahan seorang Muslim pada Allah Subhanna Wa Ta'ala . Shalat menjadi simbol keislaman seseorang, karena hakikat Islam sendiri adalah "penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah," sebagaimana makna asal kata "Islam," aslama, yakni menyerahkan diri (tunduk, patuh pada Hukum Allah).

Ketika memulai shalat dengan takbir, sambil mengangkat kedua tangan, itu menjadi simbol pengakuan keagungan Allah Subhanna Wa Ta'ala. Tujuan hakiki dari shalat sendiri, menurut Ensiklopedi Islam, adalah pengakuan hati bahwa Allah Subhanna Wa Ta'ala sebagai pencipta adalah agung dan pernyataan patuh pada-Nya. Bagi seseorang yang telah melakukan shalat dengan penuh rasa takwa dan keimanan, hubungannya dengan Allah Subhanna Wa Ta'ala akan kuat, istiqamah dalam beribadah pada-Nya, dan menjaga ketentuan-ketentuan yang digariskan-Nya.

Shalat harus dilaksanakan secara khusyuk. Artinya, secara sungguh-sungguh, ikhlas karena Allah Subhanna Wa Ta'ala, tertib bacaan dan gerakannya, dan tidak lalai, tidak menunda-nunda, dan pikiran tidak ke mana-nama selagi shalat. Salah satu kunci mencapai kekhusyukan dalam shalat adalah mengerti apa yang diucapkan selama shalat, mulai dari bacaan takbir hingga salam. Artinya, mengerti dan memahami arti dari bacaan shalat. Jika kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan, sama halnya dengan mengigau. Kita tidak menyadari apa yang tengah diucapkan.

Karena itu, bagi kita yang belum mengerti atau mengetahui satu per satu arti dan makna bacaan shalat, mulai dari takbir, doa iftitah, surat Al-Fatihah, bacaan ruku', sujud, tahiyat, hingga salam, belum terlambat kiranya memulai untuk mencari tahu dan memahaminya.

Shalat bukanlah beban, melainkan kebutuhan pokok dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat juga merupakan mediator untuk mendapatkan pertolongan dan ampunan Allah Subhanna Wa Ta'ala, serta ketenangan jiwa.

”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (Al Baqarah:45).
Shalat pun merupakan sarana untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan (QS Al-Mukminun: 1, Al-Ma'arij: 19).

Apalagi shalat wajib lima kali dalam sehari semalam itu merupakan penghapus dosa sebagaimana air yang dipakai mandi dapat menghapuskan kotoran yang menempel dan ada di badan kita (HR Bukhari, Muslim, At-Turmudzi, An-Nasai, dari Abu Hurairah).

Dengan shalat akan tercipta hubungan yang amat dekat dengan Allah Subhanna Wa Ta’ala  (taqarrub), sehingga terasa adanya pengawasan dari-Nya terhadap segala perilaku kita, yang pada gilirannya akan memberikan ketenangan dalam jiwa sekaligus mencegah terjadinya kelalaian yang dapat memalingkan mata hati kita dari ketaatan pada-Nya (QS. 51:56)

Tiada perintah Allah Subhanna Wa Ta'ala yang seketat shalat. Ibadah ini wajib dilaksanakan setiap Muslim dalam kondisi apa pun, selama nyawa masih menyatu dalam raga. Tidak mampu berdiri, boleh sambil duduk. Tidak mampu sambil duduk, silakan sambil berbaring. Tidak heran, menurut hadis Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam, amal pertama yang akan dihisab di akhirat nanti adalah shalat kita masing-masing. Jika shalatnya baik, tanpa cela, maka akan baik pula seluruh amalnya; jika shalatnya jelek, maka akan buruk pulalah seluruh amalnya.

Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang tidak saja memenuhi syarat dan rukun, ditambah kekhusyukan dalam pelaksanaannya, tetapi juga berdampak pada kebaikan perilaku sehari-hari. Seluruh bacaan dan gerakan shalat, jika direnungkan, menyimbolkan sekaligus mencerminkan perilaku yang seharusnya dilakukan seorang muslim dalam kehidupannya.

Takbir -- sebagai pembuka shalat -- menunjukkan sebuah pengakuan dan sikap dasar, dalam kehidupan seorang muslim yang benar-benar sadr bahwa hanya Allah yang Maha Besar, sehingga hanya Dia pula yang ditaati, ditakuti, dan dipuji. Pengabdian, permohonan, dan penyandaran hidup hanya kepada Allah Subhanna Wa Ta'ala semata.

Gerakan-gerakan shalat seperti ruku', i'tidal, sujud, dan tahiyat merupakan simbol penghormatan hakiki kepada Allah. Tatkala sujud, kepala kita disejajarkan dengan tanah. Setidaknya hal itu bermakna, di hadapan Allah manusia dengan tanah sama-sama makhluk. Maka tak pantas jika kita berlaku angkuh, gila hormat, dan sebagainya, sebab pujian dan penghormatan hakiki hanya pantas diberikan kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala.

Shalat ditutup dengan salam, sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika menutup shalat itu kita mendoakan orang di sekitar kita agar diberi keselamatan dan keberkatan. Bacaan dan gerakan itu bermakna, seorang Muslim hendaknya menebar keselamatan dan kedamaian kepada sesama, bukan menebar benih kecelakaan, kerusuhan, atau permusuhan. "Jika engkau bertemu saudaramu (sesama Muslim), sampaikan salam kepadanya" (HR Abu Daud). Dalam hadits lain Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam menegaskan, "Seorang Muslim adalah dia yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya."

Muslim sejati tidak akan mengganggu orang lain dengan perkataan kotornya, umpatannya, atau ucapan-ucapan yang menyakitkan hati. Ia pun tidak akan mencelakakan orang lain dengan ulahnya. Muslim sejati senantiasa menghadirkan kemaslahatan dan manfaat bagi orang lain, bukan menjadi "trouble maker" atau pembawa bencana dan kesulitan bagi orang lain. "Sebaik-baik manusia ialah orang dapat memberi manfaat kepada manusia lain," demikian sabda Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam dalam sebuah wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib.

Identitas yang kelima dari seorang muslim, yaitu dapat dilihat dari tanda bekas “ber Sujud.”

Umat ini ruku dan sujud dengan mempunyai sandaran vertikal kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala. Bila hidup kita sudah didasari atas ketergantungan kepada manusia, maka bersiap-siaplah untuk kecewa.

Dapat dilihat jelas sekali dari seorang muslim yang istiqomah dengan pancaran sinar yang muncul diwajahnya.  Jidatnya boleh hitam (bekas sujud) atau tidak terlihat sama sekali, tapi yang sangat penting dari tanda-tanda tadi yaitu karena mereka rajin sujud, maka timbul ikhlasnya. Karena rajin sujud, maka timbul rendah hatinya. Karena rajin sujud, maka timbul konaahnya. Karena rajin sujud, maka timbul tawadhonya. Inilah pengaruh sujud bagi seorang muslim/muslimah.




MENJAGA KEIMANAN KITA:

Karakter dari keimanan seseorang sebagaimana dikatakan oleh Rasullullah Salallahu Alayhi Wa Salam adalh selalu naik dan turun. Sehingga tidak aneh jika pada saat tertentu keimanan, semangat beribadah, dan melakukan ketaatan bertambah. Akan tetapi pada saat yang lain menjadi menurun. Namun demikian, turun naiknya keimanan harus tetap di kontrol secara baik sehingga fluktuasinya tidak membuat kita jatuh kepada titik iman yang paling rendah, bahkan kadang dapat merusak sama sekali. Wa naudzubillah.

Karena itu, ada beberapa petunjuk Allah Subhanna Wa Ta'ala dan Rasul Sallalahu Alayhi Wasallam yang sangat penting untuk menjaga fluktuasi keimanan tersebut dan bahkan membuatnya meningkat. Secara ringkasnya diantaranya ialah:

1. Pemahaman yang benar tentang Islam. Jika kita memahami Islam secara benar dan
utuh, insya Allah keimanan akan stabil.

2. Mempelajari dan membaca kisah-kisah orang saleh serta para nabi yang konsisten diatas jalan keimanan. ”Semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu. Itulah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS Hud: 120).

3. Banyak zikir dan ingat kepada Allah. Khususnya, ucapan lâ ilâha illallâh. Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Perbaharuilah keimanan kalian!” Lalu, ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami memperbaharui keimanan kami?” Beliau menjawab, “Perbanyaklah membaca lâ ilâha illallâh (HR Imam Ahmad).

4. Bersabar dalam menerima musibah, dalam meninggalkan maksiat, dan dalam melakukan ketaatan. “Jadikan sabar dan salat sebagai penolong.” (QS al-Nahl:1).

5. Memperbanyak ibadah. Sebab, ia akan mendatangkan cahaya dan menerangi jalanmu.

6. Tidak kagum diri. (Al Qashash: 78).

7. Selalu berdoa kepada Allah Subhanna Wa Ta'ala agar ditetapkan dalam keimanan. Karena itu, di antara doa-doa yang sering dipanjatkan Rasul Sallallahu Alayhi Wasallam adalah, “Ya Muqallibal quluub wal abshar, tsabbit qalbi ala diinik (Wahai Zat yang membolak-balik hati, teguhkan hatiku di atas agamamu).”

8. Berkumpul bersama orang-orang saleh. Bahkan, Rasul sendiri disuruh oleh Allah Subhanna Wa Ta'ala untuk tetap bersilahturahmi bersama orang-orang yang taat dan berdoa kepada Allah (QS al-Kahf: 28).

9. Selalu berpegangan kepada kitabullah.

Semoga penjelasan/peringatan ini bermanfaat untuk kita semua umat Islam; seperti pepatah mengatakan tak ada gading yang tak retak, atas segala kekurangan nya, mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena kebenaran yang hakiki adalah hanya milik Allah Subhanna Wa Ta’ala.  Wabil lahitaufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


No comments:

Iftar Bersama di Masjid An Noor - 1435H

Muslims, guests break Ramadan fast together



By JoAnne Viviano
The Columbus Dispatch • Friday July 18, 2014 4:08 AM

See the Video by clicking this!

Alka Ahuja and her husband, Rajiv, had driven by the Noor Islamic Cultural Center in Hilliard many times, often wondering what went on inside the walls of the massive structure.

This week, they found out.

The Hilliard couple, Hindus originally from India, attended the center’s Experiencing Ramadan event on Wednesday. The interfaith gathering introduced non-Muslims to Islam and Ramadan, a 30-day period of reflection during which Muslims fast from sunrise to sunset.

“We felt there was so much hunger and demand on people’s part to learn about religious diversity as well as cultural diversity,” said Imran Malik, chairman of the board of the American Islamic Waqf, which oversees the center. “The more we know about each other, the safer, more-secure communities we can build together.”

Participants in the event received a brief overview of Islam, toured the center and watched evening prayers. They then were treated to a daily fast-breaking meal, also called an iftar, dining on dates, meats, rice, hummus, salad and baklava.

Youngsters who attend the mosque offered their own perspectives, telling the guests some of the foods used to break the fast in areas such as Somalia, Sri Lanka, India, Indonesia and Pakistan. The children spoke of family time, gathering at the mosque for late prayers, meals and fun, and waking before sunrise to eat.
One boy said the early meal is his favorite part of Ramadan, and his favorite food is scrambled eggs and pancakes.

“Thank God that IHOP’s open at 3 a.m.,” he quipped to laughter.

Among the guests was Collette Tucker of Dublin, who said she recently realized that she was taking her questions about Islam to her 11-year-old daughter, whose best friend is Muslim.

“I’d never experienced anything Muslim,” said Tucker, who attended with daughter Cameron and her 13-year-old son, Calvin. “I thought it was awesome. I wish I hadn’t waited so long.”

Malik said the center used to host a community meal annually but hadn’t in recent years because the dates of Ramadan are based on a lunar calendar and sunset times were late. The idea was reignited by the Safe Alliance of Interfaith Leaders, a group that seeks to increase cross-faith understanding in the Hilliard and Dublin areas.

More than 300 people responded to the invitation from Noor, where leaders are considering other ways to host interfaith gatherings throughout the year.

Christina Butler, president of the Interfaith Association of Central Ohio, said such events foster understanding.

“They bring a diverse group of people together for an evening of talking and sharing and certainly eating,” she said. “So it’s just another time to be with each other as human beings in a joyful atmosphere of celebration and sharing and learning about one another.”

Much like periods of fasting in Christian and Jewish traditions, Ramadan allows participants to experience how the needy might feel when they must live without food, water, shelter and clothing, Malik said. The observance ends with the Eid al-Fitr holiday, expected this year at sundown on July 28.

“The idea is you practice this on your own self for 30 days in a state of worship and individual form, and then take it to the next level and build the outreach, build the servicing of the community,” he said. “That is the actual essence of Ramadan.”

The Ahujas said they were intrigued enough by the event that they will consider returning to the center for an Islam 101 course.

“I didn’t know anything,” said Mrs. Ahuja, who was invited by a Muslim friend. “I think people need to know more about each other’s religions.”

jviviano@dispatch.com
@JoAnneViviano




Taraweeh di Masjid An Noor

QS At Tahrim - 6

Firman Allah SWT: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

Pertemuan Pertama

Alhamdulillah segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Selawat dan salam juga tercurah pada junjugan kita Rasulullah SAW dan keluarga beliau serta para sahabat, pada Sabtu sore, 29 Maret 2008 (21 Rabil’ ul Awal 1429H) kami grup Pengajian Columbus bertemu pertama kali dikediaman bapak Abbas dan ibu Fera Gitosuputro. Photo2 pada pertemuan pertama dapat dilihat pada link berikut: http://www.flickr.com/photos/22755746@N03/sets/72157604330688511/


Pada kesempatan mana kami mengundang juga Bapak Farizal, PhD dari Toledo. Beliau menyambut hangat undangan grup kami yang sekaligus menyumbangkan pesan2 ceramah beliau. Salah satu pesan beliau yaitu selain mengaji dan berdoa serta bertukar fikiran bersama, jadikanlah pula tempat pertemuan pengajian kita sebagai wadah memperkokoh tali silahturahmi sesama muslim. Jazakumullah khairan kathira pak Farizal atas wejangan2nya.