(disadur dan
dituliskan kembali dari beberapa tulisan dari blog lain)
Ada suatu
tulisan yang sifatnya mengingatkan kita semua umat Islam dimana saja kita berada.
Terutama yang bersangkut paut erat sekali dengan keimanan kita dan bagaimana
kita membentenginya agar tidak ditembus oleh sifat dunnya yang mudah terlena
dan menyesatkan. Marilah kita simak bersama tulisan tersebut dibawah ini:
Ibu Guru
berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik
murid-muridnya dalam pendidikan Syari'at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di
tangan kanannya ada penghapus.
Ibu Guru
berkata, "Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada
kapur, di tangan kanan ada penghapus.
Jika saya
angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya
angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!"
Murid
muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara
tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.
Beberapa
saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika
saya angkat kapur, maka berserulah ''Penghapus!'',
jika saya
angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!".
Dan
permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk,
dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan
tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum
kepada murid-muridnya.
"Anak-anak,
begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq,
yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya
melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan
sebaliknya.
Pertama-tama
mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus
disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun
kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya.
Musuh-musuh
kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."
"Keluar
berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi
persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi
suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi
menjadi kebanggaan dan lain lain.
Semuanya
sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya.
Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. ''Paham Bu Guru''
"Baik
permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan.
"Bu
Guru ada Qur'an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu
"dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet.
Sekarang
anak-anak berdiri di luar karpet.
Permainannya
adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah dan ditukar
dengan buku lain, tanpa memijak karpet?" Murid-muridnya berpikir.
Ada yang
mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.
Akhirnya
Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an
ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak
karpet.
"Murid-murid,
begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan
memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan
menolaknya mentah-mentah.
Orang biasa
pun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan
menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.
Jika
seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pondasi yang kuat.
Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.
Sebaliknya,
jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah
hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari
dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…"
"Begitulah
musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam
terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian.
Mulai dari
perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu
Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari'at Islam sedikit demi sedikit.
Dan itulah yang mereka inginkan."
"Kenapa
mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?" tanya
mereka.
Sesungguhnya
dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar,
dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau
diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau
diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit
serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo'a dahulu
sebelum pulang …"
Matahari
bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka
dengan pikiran masing-masing di kepalanya. Ini semua adalah fenomena Ghazwul
Fikir (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam.
Berikut adalah
beberapa strategi mereka untuk menghancurkan umat Islam – antara lain dengan
memutar balikan fakta serta penggunaan kata yang mengecoh (mencampur adukan
sesuatu yang bathil dari yang haq):
(1)
redefinisi istilah-istilah bathil sehingga menjadi mirip istilah haq:
a. demokrasi
= musyawarah
b.
sekulerisme = tidak fanatik mazhab
c.
liberalisme = bebas dari rasa takut
d.
kapitalisme = mekanisme pasar
(2)
menggulung khilafah sedikit demi sedikit dan akhirnya untuk mengatur urusan
publik, Qur'an & Sunnah diganti dengan UU buatan demokrasi.
Allah Subhanna
Wa Ta'ala berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:
"Mereka hendak memadamkan cahaya
Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan
cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu."(QS. At
Taubah: 32)
Musuh-musuh
Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah
ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim.
Kata-kata
membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui media, grafika dan
elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa untuk kita –
audience nya. Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita yang
seharusnya??
MENGINGATKAN
DIRI KITA SATU SAMA LAIN SEBAGAI SEORANG MUSLIM YANG TAAT:
Untuk
menjawab peringatan diatas – mengenai sikap kita yang seharusnya, saya teringat
dengan surat Al Fath.
Diakhir
surat ini (48:29), Allah Subhanna Wa Ta’ala berfirman:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan
Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,
Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan
tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya;
tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Dari isi surat diatas Allah Subhanna Wa Ta’ala sendiri
yang sengaja membedakan umat muslim dengan kaum kafir. Hal mana tidak lain dari
keinginan Allah Rabbal Alamin sendiri untuk membuat dengki kaum kafir dengan
membedakannya dengan umat Muhammad Sallallahu Alayhi Wasallam. Yang mana
akhirnya Allah Subhanna Wa Ta’ala kemudian memenangkan (Al Fath = Kemenangan)
umat muslim. Untuk itulah sebagai umat pengikut Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam,
kita mempunyai lima identitas (jati diri) tersendiri. Lima jati diri tadi dapat
kita urutkan sebagai berikut:
Identitas yang pertama, yaitu sebagai seorang muslim kita
harus mempunyai sikap “Asyida u alal kufar.”
Seorang
muslim harus tegas kepada orang kafir. Apa yang dimaksud disini dengan
ketegasan sikap kita terhadap mereka? Apakah kita harus mengajak perang mereka,
apakah kita harus bermusuhan dengan mereka, apakah kita harus bersikap tidak
toleransi kepada mereka?
Kalau saja
kita mau menggali dari sumbernya, sangat banyak sekali dalam Al Qur’an dan Al
Hadits yang mengajarkan bab toleransi kepada umat muslim. Menurut pendapat
saya, sikap yang timbul dalam masyarakat sekarang ini disebabkan karena ketidak
fahaman atau kesalah fahaman dalam mengartikan sikap toleransi kita pada umat
agama lain.
Terutama
umat muslim yang hidup dijaman yang modern ini. Seharusnya kita mengerti dan
menyadari bahwa dilingkungan hidup kita ini sarat dengan
fatamorgana-fatamorgana yang dapat mengecohkan dan sangat membahayakan
mata-hati kita/aqidah kita. Terutama untuk kita yang keyakinan (aqidahnya)
masih mudah tergoyahkan.
Bukalah hati
dan pikiran kita sebagi muslim, maka dapat dengan jelas kita lihat
contoh-contoh keyakinan semu yang dapat menggoyahkan kita. Bahkan mungkin kita
pernah mendengarkan atau ada yang mengatakan kepada kita: ”Sudahlah … sudahlah
tidak perlu fanatik! Beragama jangan begitu, tidak perlu terlalu ekstrim dsb dsb”
Jadi dengan kata lain bentuk toleransi seorang muslim dapat diputar balikan
sebagai berikut; Saat Waisak, waisakan. Saat Rajab, rajaban. Saat Natal,
natalan. Kemudian hati kita membenarkan?
Bahkan lebih jauh lagi dapat kita
lihat contoh-contoh seperti: Seminarinya orang katolik yang dirubah namanya di Indonesia
sebagai “Pesantren Katolik.” Juga ada sekolah-sekolah kristen di Jawa Tengah
yang sudah berganti nama dengan sebutan “Madrasah Alkitab.” Masya Allah,
mudah-mudahan kita terhindar dari semua plesetan-plesetan tersebut.
Istilah-istilah inilah yang menurut saya adalah sangat samar dan sangat rancu serta menyesatkan umat Islam (kristenisasi terselubung). Orang yang masih mudah dan goyah keimanannya berpendapat bahwa semua agama itu benar.
Bila seorang muslim sudah mempunyai mental yang demikian, maka berarti dia sudah menghancurkan aqidah keimannya sebagai muslim.
Karena seeorang
muslim/muslimah seharusnya mempunyai keyakinan bahwa “Semua agama itu benar (koma), bagi pengikutnya masing2.”
Keluar kita harus memperingati sesama muslim agar tidak terkecoh
hasutan-hasutan yang menyesatkan ini. Sedang kedalam kita harus memagari diri
kita dengan membentengi diri dan keluarga kita sejalan dengan selalu memperkuat
keimanan kita.
Dengan kata lain, kita wajib berprinsip “Lakum diinukum wa liya
diin” (QS 109:6). Bagi seorang muslim harus berpandangan, hanya Islamlah
agama Allah satu-satunya yang hak dan benar.
Jelas-jelasan Allah Subhanna Wa Ta'ala berfirman serta
mengingatkan kita umat Islam melalui kitab NYA yang diturunkan kepada Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam dalam surat Al Kafirun
tersebut diatas “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”
Secara gamblangnya
kita harus meyakini dengan keimanan yang mendalam bahwa Islam sajalah
satu-satunya agama Allah yang hak. Silahkan tuan-tuan meyembah agama tuan, bagi
antum agama antum, bagi ana agama ana.
Hal ini bukan berarti kita umat Islam
tidak toleran terhadap agama lain. Tetapi jangan lupa, karena Allah Subhanna Wa
Ta'ala sendiri yang menjamin bahwa hanya Islam sajalah agama yang hak diakui
oleh Allah Subhanna Wa Ta'ala. Hal
inilah yang diharapkan dengan sikap yang tegas dari seorang muslim/muslimah.
Sekali lagi
sangat perlu digaris bawahi disini, bahwa bagi seorang muslim yang tidak
mempuyai sikap yang demikian maka akan runtuhlah aqidahnya (keimannya), karena
dia mengartikan bahwa agama lain itu juga benar dalam keimanannya. Hal ini akan
membawa seseorang ketingkat syrik yang berarti menduakan agama Allah yang hak
dengan agama lain. Yang berarti juga menyamakan Tuhan nya agama lain dengan
Allah Subhanna Wa Ta'ala. Sedang syrik adalah perbuatan yang oleh Allah Subhanna
Wa Ta'ala tidak akan ada ampunannya sama sekali karena sikap yang menyekutukan
Allah Subhanna Wa Ta'ala dengan hal yang lain (wa nauzu billahi min dzalik).
Rukun Iman pertama dalam Islampun menegaskan hal ini bahwa setiap muslim harus
mempunyai keyakinan bahwa hanya Allah Subhanna Wa Ta'ala sajalah Tuhan yang
satu yang kita sembah, tidak ada Tuhan selain NYA.
Identitas
yang kedua, yaitu seorang muslim itu harus Kasih sayang untuk semua umat
“rahmatan lil alamin.”
Umat Islam adalah umat yang di rahmati Allah Subhanna Wa Ta’ala
dan kasih sayang kepada sesama. Apalagi kepada sesama muslim dimana saja. Bila
semua umat muslim bersatu dimuka bumi Allah ini, maka musuh kita akan kalah. Tapi
bila kita terpecah belah, mereka akan dengan mudah mengalahkan kita.
Sayangnya
hal ini banyak sekali sekarang, terkadang kita melihat umat muslim yang seperti
buih dilautan. Banyak sekali jumlahnya tapi mudah sekali diombang-ambingkan
kesana kemari oleh yang bukan muslim (kafir). Penyebabnya tiada lain karena
sebagian dari kita umat muslim terlalu cinta sekali dengan dunia dan melupakan
akherat. Janganlah kita korbankan keabadian nikmat akherat yang
kekal dengan kenikmatan dunia yang hanya sementara saja sifatnya.
Identitas yang ketiga, yaitu seorang muslim itu selalu
mengharapkan “Ridho Allah.”
Seorang
muslim harus yakin bahwa ada hidup sesudah mati dan ada akherat sesudah dunia.
Berusahalah sekuat tenaga kita untuk mencari ridho Allah seakan-akan kita akan
hidup beribu-ribu tahun lagi. Bertobat dan perkuatlah keimanan dalam diri kita
masing-masing seakan-akan kita akan mati besok.
Kita harus
selalu berprinsip bahwa apa-apa yang kita dapati dalam kehidupan kita sebagai
rezeki Allah Subhanna Wa Ta'ala yang diridhoi Nya. Yang kita makan yang Allah
ridho. Yang kita minum yang Allah ridho. Yang kita pakai juga yang Allah ridho
dan lain sebagainya yang Allah ridhoi.
Sayapun disini ingin sekali mengingatkan
diri saya sendiri dan keluarga saya bahwa kita harus bekerja keras meluruskan
keridhoan Allah Subhanna Wa Ta'ala didalam keluarga.
Identitas
yang keempat, yaitu seorang muslim harus mendirikan “Shalat lima Waktu sehari semalam (Ruku dan Sujud).”
Umat
Islam bukan saja diwajibkan "melaksanakan" shalat, tetapi harus
"mendirikan" shalat. Shalat tidak hanya sekadar gerakan dan bacaan
yang sifatnya ritual-individual, tetapi harus berdampak pada perilaku kita sehari-hari.
Bahwa shalat merupakan "tiang agama" (imaduddin), dan yang tidak
melaksanakannya berarti meruntuhkan agamanya, kita sudah sama-sama mahfum.
Demikian pula bahwasanya shalat dapat mencegah diri pelakunya dari perbuatan
keji dan munkar. Hal ini dijelaskan dalam surat Al An Kabuut ayat ke 45 sbb:
Allah
Subhanna Wa Ta'ala berfirman:
”bacalah
apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan
mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
Masalahnya sekarang, mengapa tidak sedikit seorang muslim yang rajin
melaksanakan shalat, tetapi perbuatan keji dan munkar tetap saja dilakukannya.
Tentang hal ini, Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam pernah menyatakan, orang itu
bukannya semakin dekat pada Allah Subhanna Wa Ta'ala melainkan semakin jauh
(bu'da).
Bisa jadi, shalat yang tidak membuat seseorang menjauhkan diri dari perbuatan
keji dan munkar adalah shalat yang dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban dan
"asal jadi". Kekhusyukan dan kesempurnaannya kurang diperhatikan.
Atau karena shalat yang dilakukannya tidak berlandaskan keikhlasan melainkan
riya, ingin dipuji orang, atau bermotif duniawi.
Firman Allah Subhanna Wa
Ta'ala lainnya dalam surat Al Maa’uun berbunyi sbb:
“Celakalah orang-orang yang shalat; yaitu orang yang lalai dalam
shalatnya dan mereka yang riya (dalam shalatnya).”
Shalat yang sesunguhnya bukanlah sekadar hanya melaksanakan gerakan dan bacaan
tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seorang Muslim
bukan hanya dituntut "melaksanakan" shalat, tetapi
"mendirikan" shalat (aqama shalah). Artinya, shalat tidak hanya
sekadar gerak badan dan bacaan (ritual-individual) seperti orang berolah raga,
tetapi harus pula tercermin dalam perilaku sehari-hari (shalat sosial). Semua pengakuan
Allah Subhanna Wa Ta'ala sebagai Tuhan dan Muhammad Sallallahu Alayhi Wasallam
sebagai Rasul, harus terbuktikan dalam perilaku kita sehari-hari, yang berupa
ketaatan terhadap semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Shalat adalah simbol kepasrahan seorang Muslim pada Allah Subhanna Wa Ta'ala .
Shalat menjadi simbol keislaman seseorang, karena hakikat Islam sendiri adalah
"penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah," sebagaimana makna
asal kata "Islam," aslama, yakni menyerahkan diri (tunduk, patuh pada
Hukum Allah).
Ketika memulai shalat dengan takbir, sambil mengangkat kedua tangan, itu
menjadi simbol pengakuan keagungan Allah Subhanna Wa Ta'ala. Tujuan hakiki dari
shalat sendiri, menurut Ensiklopedi Islam, adalah pengakuan hati bahwa Allah Subhanna
Wa Ta'ala sebagai pencipta adalah agung dan pernyataan patuh pada-Nya. Bagi
seseorang yang telah melakukan shalat dengan penuh rasa takwa dan keimanan,
hubungannya dengan Allah Subhanna Wa Ta'ala akan kuat, istiqamah dalam
beribadah pada-Nya, dan menjaga ketentuan-ketentuan yang digariskan-Nya.
Shalat harus dilaksanakan secara khusyuk. Artinya, secara sungguh-sungguh,
ikhlas karena Allah Subhanna Wa Ta'ala, tertib bacaan dan gerakannya, dan tidak
lalai, tidak menunda-nunda, dan pikiran tidak ke mana-nama selagi shalat. Salah
satu kunci mencapai kekhusyukan dalam shalat adalah mengerti apa yang diucapkan
selama shalat, mulai dari bacaan takbir hingga salam. Artinya, mengerti dan
memahami arti dari bacaan shalat. Jika kita tidak mengerti apa yang kita
ucapkan, sama halnya dengan mengigau. Kita tidak menyadari apa yang tengah
diucapkan.
Karena itu, bagi kita yang belum mengerti atau mengetahui satu per satu arti
dan makna bacaan shalat, mulai dari takbir, doa iftitah, surat Al-Fatihah, bacaan ruku', sujud, tahiyat,
hingga salam, belum terlambat kiranya memulai untuk mencari tahu dan
memahaminya.
Shalat bukanlah beban, melainkan kebutuhan pokok dalam kehidupan seorang
Muslim. Shalat juga merupakan mediator untuk mendapatkan pertolongan dan
ampunan Allah Subhanna Wa Ta'ala, serta ketenangan jiwa.
”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu.” (Al Baqarah:45).
Shalat pun merupakan sarana
untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan (QS Al-Mukminun: 1, Al-Ma'arij:
19).
Apalagi shalat wajib lima
kali dalam sehari semalam itu merupakan penghapus dosa sebagaimana air yang
dipakai mandi dapat menghapuskan kotoran yang menempel dan ada di badan kita
(HR Bukhari, Muslim, At-Turmudzi, An-Nasai, dari Abu Hurairah).
Dengan shalat akan tercipta hubungan yang amat dekat dengan Allah Subhanna Wa
Ta’ala (taqarrub), sehingga terasa
adanya pengawasan dari-Nya terhadap segala perilaku kita, yang pada gilirannya
akan memberikan ketenangan dalam jiwa sekaligus mencegah terjadinya kelalaian
yang dapat memalingkan mata hati kita dari ketaatan pada-Nya (QS. 51:56)
Tiada perintah Allah Subhanna Wa Ta'ala yang seketat shalat. Ibadah ini wajib
dilaksanakan setiap Muslim dalam kondisi apa pun, selama nyawa masih menyatu
dalam raga. Tidak mampu berdiri, boleh sambil duduk. Tidak mampu sambil duduk,
silakan sambil berbaring. Tidak heran, menurut hadis Nabi Sallallahu Alayhi
Wasallam, amal pertama yang akan dihisab di akhirat nanti adalah shalat kita
masing-masing. Jika shalatnya baik, tanpa cela, maka akan baik pula seluruh amalnya;
jika shalatnya jelek, maka akan buruk pulalah seluruh amalnya.
Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang tidak saja memenuhi syarat dan
rukun, ditambah kekhusyukan dalam pelaksanaannya, tetapi juga berdampak pada
kebaikan perilaku sehari-hari. Seluruh bacaan dan gerakan shalat, jika
direnungkan, menyimbolkan sekaligus mencerminkan perilaku yang seharusnya
dilakukan seorang muslim dalam kehidupannya.
Takbir -- sebagai pembuka shalat -- menunjukkan sebuah pengakuan dan sikap
dasar, dalam kehidupan seorang muslim yang benar-benar sadr bahwa hanya Allah
yang Maha Besar, sehingga hanya Dia pula yang ditaati, ditakuti, dan dipuji.
Pengabdian, permohonan, dan penyandaran hidup hanya kepada Allah Subhanna Wa
Ta'ala semata.
Gerakan-gerakan shalat seperti ruku', i'tidal, sujud, dan tahiyat merupakan
simbol penghormatan hakiki kepada Allah. Tatkala sujud, kepala kita
disejajarkan dengan tanah. Setidaknya hal itu bermakna, di hadapan Allah
manusia dengan tanah sama-sama makhluk. Maka tak pantas jika kita berlaku
angkuh, gila hormat, dan sebagainya, sebab pujian dan penghormatan hakiki hanya
pantas diberikan kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala.
Shalat ditutup dengan salam, sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika
menutup shalat itu kita mendoakan orang di sekitar kita agar diberi keselamatan
dan keberkatan. Bacaan dan gerakan itu bermakna, seorang Muslim hendaknya
menebar keselamatan dan kedamaian kepada sesama, bukan menebar benih
kecelakaan, kerusuhan, atau permusuhan. "Jika engkau bertemu saudaramu
(sesama Muslim), sampaikan salam kepadanya" (HR Abu Daud). Dalam hadits
lain Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam menegaskan, "Seorang Muslim adalah
dia yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya."
Muslim sejati tidak akan mengganggu orang lain dengan perkataan kotornya,
umpatannya, atau ucapan-ucapan yang menyakitkan hati. Ia pun tidak akan
mencelakakan orang lain dengan ulahnya. Muslim sejati senantiasa menghadirkan
kemaslahatan dan manfaat bagi orang lain, bukan menjadi "trouble
maker" atau pembawa bencana dan kesulitan bagi orang lain. "Sebaik-baik
manusia ialah orang dapat memberi manfaat kepada manusia lain," demikian
sabda Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam dalam sebuah wasiatnya kepada Ali bin Abi
Thalib.
Identitas
yang kelima dari seorang muslim, yaitu dapat dilihat dari tanda bekas “ber
Sujud.”
Umat ini ruku dan sujud dengan mempunyai sandaran
vertikal kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala. Bila hidup kita sudah didasari atas
ketergantungan kepada manusia, maka bersiap-siaplah untuk kecewa.
Dapat
dilihat jelas sekali dari seorang muslim yang istiqomah dengan pancaran sinar
yang muncul diwajahnya. Jidatnya boleh
hitam (bekas sujud) atau tidak terlihat sama sekali, tapi yang sangat penting
dari tanda-tanda tadi yaitu karena mereka rajin sujud, maka timbul ikhlasnya. Karena
rajin sujud, maka timbul rendah hatinya. Karena rajin sujud, maka timbul
konaahnya. Karena rajin sujud, maka timbul tawadhonya. Inilah pengaruh sujud
bagi seorang muslim/muslimah.
MENJAGA KEIMANAN KITA:
Karakter dari keimanan seseorang sebagaimana dikatakan oleh Rasullullah Salallahu Alayhi Wa Salam adalh selalu naik dan turun. Sehingga tidak aneh jika pada saat tertentu keimanan, semangat beribadah, dan melakukan ketaatan bertambah. Akan tetapi pada saat yang lain menjadi menurun. Namun demikian, turun naiknya keimanan harus tetap di kontrol secara baik sehingga fluktuasinya tidak membuat kita jatuh kepada titik iman yang paling rendah, bahkan kadang dapat merusak sama sekali. Wa naudzubillah.
Karena itu, ada beberapa petunjuk Allah Subhanna Wa Ta'ala dan Rasul Sallalahu Alayhi Wasallam yang sangat penting untuk menjaga fluktuasi keimanan tersebut dan bahkan membuatnya meningkat. Secara ringkasnya diantaranya ialah:
1. Pemahaman yang benar tentang Islam. Jika kita memahami Islam secara benar dan
utuh, insya Allah keimanan akan stabil.
2. Mempelajari dan membaca kisah-kisah orang saleh serta para nabi yang
konsisten diatas jalan keimanan. ”Semua kisah dari rasul-rasul Kami
ceritakan kepadamu. Itulah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan
hatimu; dan dalam surat Ini telah datang kepadamu kebenaran serta
pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS Hud: 120).
3. Banyak zikir dan ingat kepada Allah. Khususnya, ucapan lâ ilâha illallâh.
Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Perbaharuilah keimanan
kalian!” Lalu, ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami
memperbaharui keimanan kami?” Beliau menjawab, “Perbanyaklah membaca lâ ilâha illallâh (HR
Imam Ahmad).
4. Bersabar dalam menerima musibah, dalam meninggalkan maksiat, dan dalam melakukan
ketaatan. “Jadikan sabar
dan salat sebagai penolong.” (QS al-Nahl:1).
5. Memperbanyak ibadah. Sebab, ia akan mendatangkan cahaya dan menerangi
jalanmu.
6. Tidak kagum diri. (Al Qashash: 78).
7. Selalu berdoa kepada Allah Subhanna Wa Ta'ala agar ditetapkan dalam
keimanan. Karena itu, di antara doa-doa yang sering dipanjatkan Rasul Sallallahu
Alayhi Wasallam adalah, “Ya
Muqallibal quluub wal abshar, tsabbit
qalbi ala diinik (Wahai Zat yang membolak-balik hati, teguhkan hatiku di atas agamamu).”
8. Berkumpul bersama orang-orang saleh. Bahkan, Rasul sendiri disuruh oleh
Allah Subhanna Wa Ta'ala untuk tetap bersilahturahmi bersama orang-orang yang
taat dan berdoa kepada Allah (QS al-Kahf: 28).
9. Selalu berpegangan kepada kitabullah.
Semoga penjelasan/peringatan
ini bermanfaat untuk kita semua umat Islam; seperti pepatah mengatakan tak ada
gading yang tak retak, atas segala kekurangan nya, mohon maaf yang
sebesar-besarnya, karena kebenaran yang hakiki adalah hanya milik Allah
Subhanna Wa Ta’ala. Wabil lahitaufiq wal
hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
No comments:
Post a Comment