Kata Pengantar


Assalamu`alaykum Wr.Wb.


Bapak, ibu, saudara/i dan sahabat sekeluarga yang dirahmati Allah SWT:


Kami menyambut dengan gembira keberadaan website Pengajian-Columbus yang digagas oleh beberapa anggota jemaah Pengajian-Columbus pada pertemuan awal, tanggal
29 Maret 2008 (21 Rabil’ul Awal 1429H). Pertama-tama kami ucapkan puji syukur kehadirat Illahi Rabbi, shalawat dan salam tercurah kepada jujungan kita, Nabiallah, Rasulullah SAW. Alhamdulillah, kita semua masih diberikan nikmat iman Islam. Terima kasih atas waktu yang telah diluangkan oleh beberapa kawan-kawan sekalian sehingga terwujudnya website ini.

Keberadaan website ini, yang insya Allah, selain akan mengintensifkan silaturrahim di antara anggota masyarakat Muslim Indonesia di Columbus, Ohio dan sekitarnya, seperti Athens, Dayton, Cleveland dan Toledo juga dapat menambah dan membagi informasi, pengetahuan dan wawasan bagi kita semua. Begitu pula untuk sebagian dari kita yang sekarang tinggal di luar Ohio.

Pengajian-Columbus adalah wadah untuk komunikasi dan memperdalam pengetahuan agama (dakwah) bagi siapa saja yang berminat memakmurkannya. Selain itu pengajian ini baik yang dua mingguan maupun yang bulanan/waktu-waktu tertentu berfungsi sebagai wadah untuk saling mengajak kepada kebaikan serta menjaga diri dari perbuatan yang merugikan atau merusak; saling menasehati dan mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran dengan beristiqomah. Adanya tempat berkumpul yang diisi dengan pengajian untuk menanamkan nilai-nilai etika-moral dan spiritual bagi keluarga kita adalah hal yang tidak terkira nilainya dalam kehidupan bermasyarakat seperti di Columbus, Ohio ini.


Era informasi dan globalisasi memang menuntut pendekatan dan cara-cara baru termasuk dalam penanaman dan sosialisasi nilai-nilai agama. Teknologi komunikasi seperti internet yang terus mengalami kemajuan luar biasa pesat sebagaimana juga sarana yang lain bisa berdampak positif maupun negatif, bisa bermanfaat atau pun merusak, menyebarkan kebaikan ataupun juga keburukan. Penyebaran pengetahuan, ide, nilai-nilai dan gaya hidup adalah di antara yang paling kita rasakan. Budaya konsumtif atau konsumerisme dan pop culture adalah yang paling cepat penyebarannya, terutama bagi warga muda, dalam hal ini anak-anak, generasi penerus kita. Konsumerisme membawa pada materialisme di mana manusia lebih tertarik pada pemilikan barang atau benda yang memberi kenikmatan fisik-jasmani dan kepuasan lahiriah yang artifisial ketimbang nilai-nilai kemanusiaan dan kebahagiaan batin. Demikian pula budaya pop lebih berfungsi untuk menggairahkan dorongan nafsu rendah yang mematikan jiwa dan kerohanian.


Diharapkan banyak sahabat lainnya warga Pengajian ini yang dapat mengisinya. Semoga pula website ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk tujuan yang telah dijelaskan di atas. Kami dapat dihubungi melalui:



Wassalam,

Kordinator Pengajian-Columbus



Friday, July 18, 2014

Iftar Bersama di Masjid An Noor

Muslims, guests break Ramadan fast together
By 
The Columbus Dispatch  •  
See the Video by clicking  

Alka Ahuja and her husband, Rajiv, had driven by the Noor Islamic Cultural Center in Hilliard many times, often wondering what went on inside the walls of the massive structure.
This week, they found out.
The Hilliard couple, Hindus originally from India, attended the center’s Experiencing Ramadan event on Wednesday. The interfaith gathering introduced non-Muslims to Islam and Ramadan, a 30-day period of reflection during which Muslims fast from sunrise to sunset.
“We felt there was so much hunger and demand on people’s part to learn about religious diversity as well as cultural diversity,” said Imran Malik, chairman of the board of the American Islamic Waqf, which oversees the center. “The more we know about each other, the safer, more-secure communities we can build together.”
Participants in the event received a brief overview of Islam, toured the center and watched evening prayers. They then were treated to a daily fast-breaking meal, also called an iftar, dining on dates, meats, rice, hummus, salad and baklava.
Youngsters who attend the mosque offered their own perspectives, telling the guests some of the foods used to break the fast in areas such as Somalia, Sri Lanka, India, Indonesia and Pakistan. The children spoke of family time, gathering at the mosque for late prayers, meals and fun, and waking before sunrise to eat.
One boy said the early meal is his favorite part of Ramadan, and his favorite food is scrambled eggs and pancakes.
“Thank God that IHOP’s open at 3 a.m.,” he quipped to laughter.
Among the guests was Collette Tucker of Dublin, who said she recently realized that she was taking her questions about Islam to her 11-year-old daughter, whose best friend is Muslim.
“I’d never experienced anything Muslim,” said Tucker, who attended with daughter Cameron and her 13-year-old son, Calvin. “I thought it was awesome. I wish I hadn’t waited so long.”
Malik said the center used to host a community meal annually but hadn’t in recent years because the dates of Ramadan are based on a lunar calendar and sunset times were late. The idea was reignited by the Safe Alliance of Interfaith Leaders, a group that seeks to increase cross-faith understanding in the Hilliard and Dublin areas.
More than 300 people responded to the invitation from Noor, where leaders are considering other ways to host interfaith gatherings throughout the year.
Christina Butler, president of the Interfaith Association of Central Ohio, said such events foster understanding.
“They bring a diverse group of people together for an evening of talking and sharing and certainly eating,” she said. “So it’s just another time to be with each other as human beings in a joyful atmosphere of celebration and sharing and learning about one another.”
Much like periods of fasting in Christian and Jewish traditions, Ramadan allows participants to experience how the needy might feel when they must live without food, water, shelter and clothing, Malik said. The observance ends with the Eid al-Fitr holiday, expected this year at sundown on July 28.
“The idea is you practice this on your own self for 30 days in a state of worship and individual form, and then take it to the next level and build the outreach, build the servicing of the community,” he said. “That is the actual essence of Ramadan.”
The Ahujas said they were intrigued enough by the event that they will consider returning to the center for an Islam 101 course.
“I didn’t know anything,” said Mrs. Ahuja, who was invited by a Muslim friend. “I think people need to know more about each other’s religions.”





Tuesday, May 14, 2013

Pelunturan Aqidah - Beginilah Cara Mereka Menghancurkan Akhlaq Kita

(disadur dan dituliskan kembali dari beberapa tulisan dari blog lain)

Ada suatu tulisan yang sifatnya mengingatkan kita semua umat Islam dimana saja kita berada. Terutama yang bersangkut paut erat sekali dengan keimanan kita dan bagaimana kita membentenginya agar tidak ditembus oleh sifat dunnya yang mudah terlena dan menyesatkan. Marilah kita simak bersama tulisan tersebut dibawah ini:

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari'at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus.

Ibu Guru berkata, "Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!"

Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah ''Penghapus!'',

jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!".

Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya.

Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain.

Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. ''Paham Bu Guru''

"Baik permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan.

"Bu Guru ada Qur'an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu "dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet.

Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?" Murid-muridnya berpikir.

Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah.

Orang biasa pun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.

Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pondasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.

Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…"

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian.

Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari'at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan."

"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?" tanya mereka.

Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo'a dahulu sebelum pulang …"

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya. Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikir (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam.

Berikut adalah beberapa strategi mereka untuk menghancurkan umat Islam – antara lain dengan memutar balikan fakta serta penggunaan kata yang mengecoh (mencampur adukan sesuatu yang bathil dari yang haq):

(1) redefinisi istilah-istilah bathil sehingga menjadi mirip istilah haq:
a. demokrasi = musyawarah
b. sekulerisme = tidak fanatik mazhab
c. liberalisme = bebas dari rasa takut
d. kapitalisme = mekanisme pasar

(2) menggulung khilafah sedikit demi sedikit dan akhirnya untuk mengatur urusan publik, Qur'an & Sunnah diganti dengan UU buatan demokrasi.

Allah Subhanna Wa Ta'ala berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu."(QS. At Taubah: 32)

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim.
Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa untuk kita – audience nya. Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita yang seharusnya??


MENGINGATKAN DIRI KITA SATU SAMA LAIN SEBAGAI SEORANG MUSLIM YANG TAAT:

Untuk menjawab peringatan diatas – mengenai sikap kita yang seharusnya, saya teringat dengan surat Al Fath.

Diakhir surat ini (48:29), Allah Subhanna Wa Ta’ala berfirman: 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” 

Dari isi surat diatas Allah Subhanna Wa Ta’ala sendiri yang sengaja membedakan umat muslim dengan kaum kafir. Hal mana tidak lain dari keinginan Allah Rabbal Alamin sendiri untuk membuat dengki kaum kafir dengan membedakannya dengan umat Muhammad Sallallahu Alayhi Wasallam. Yang mana akhirnya Allah Subhanna Wa Ta’ala kemudian memenangkan (Al Fath = Kemenangan) umat muslim. Untuk itulah sebagai umat pengikut Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam, kita mempunyai lima identitas (jati diri) tersendiri. Lima jati diri tadi dapat kita urutkan sebagai berikut:

Identitas yang pertama, yaitu sebagai seorang muslim kita harus mempunyai sikap “Asyida u alal kufar.”

Seorang muslim harus tegas kepada orang kafir. Apa yang dimaksud disini dengan ketegasan sikap kita terhadap mereka? Apakah kita harus mengajak perang mereka, apakah kita harus bermusuhan dengan mereka, apakah kita harus bersikap tidak toleransi kepada mereka?

Kalau saja kita mau menggali dari sumbernya, sangat banyak sekali dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang mengajarkan bab toleransi kepada umat muslim. Menurut pendapat saya, sikap yang timbul dalam masyarakat sekarang ini disebabkan karena ketidak fahaman atau kesalah fahaman dalam mengartikan sikap toleransi kita pada umat agama lain.

Terutama umat muslim yang hidup dijaman yang modern ini. Seharusnya kita mengerti dan menyadari bahwa dilingkungan hidup kita ini sarat dengan fatamorgana-fatamorgana yang dapat mengecohkan dan sangat membahayakan mata-hati kita/aqidah kita. Terutama untuk kita yang keyakinan (aqidahnya) masih mudah tergoyahkan.

Bukalah hati dan pikiran kita sebagi muslim, maka dapat dengan jelas kita lihat contoh-contoh keyakinan semu yang dapat menggoyahkan kita. Bahkan mungkin kita pernah mendengarkan atau ada yang mengatakan kepada kita: ”Sudahlah … sudahlah tidak perlu fanatik! Beragama jangan begitu, tidak perlu terlalu ekstrim dsb dsb” 

Jadi dengan kata lain bentuk toleransi seorang muslim dapat diputar balikan sebagai berikut; Saat Waisak, waisakan. Saat Rajab, rajaban. Saat Natal, natalan. Kemudian hati kita membenarkan? 

Bahkan lebih jauh lagi dapat kita lihat contoh-contoh seperti: Seminarinya orang katolik yang dirubah namanya di Indonesia sebagai “Pesantren Katolik.” Juga ada sekolah-sekolah kristen di Jawa Tengah yang sudah berganti nama dengan sebutan “Madrasah Alkitab.” Masya Allah, mudah-mudahan kita terhindar dari semua plesetan-plesetan tersebut.

Istilah-istilah inilah yang menurut saya adalah sangat samar dan sangat rancu serta menyesatkan umat Islam (kristenisasi terselubung). Orang yang masih mudah dan goyah keimanannya berpendapat bahwa semua agama itu benar.

Bila seorang muslim sudah mempunyai mental yang demikian, maka berarti dia sudah menghancurkan aqidah keimannya sebagai muslim.

Karena seeorang muslim/muslimah seharusnya mempunyai keyakinan bahwa Semua agama itu benar (koma), bagi pengikutnya masing2.” Keluar kita harus memperingati sesama muslim agar tidak terkecoh hasutan-hasutan yang menyesatkan ini. Sedang kedalam kita harus memagari diri kita dengan membentengi diri dan keluarga kita sejalan dengan selalu memperkuat keimanan kita. 

Dengan kata lain, kita wajib berprinsip “Lakum diinukum wa liya diin” (QS 109:6). Bagi seorang muslim harus berpandangan, hanya Islamlah agama Allah satu-satunya yang hak dan benar.

Jelas-jelasan Allah Subhanna Wa Ta'ala berfirman serta mengingatkan kita umat Islam melalui kitab NYA yang diturunkan kepada Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam dalam surat Al Kafirun tersebut diatas “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” 

Secara gamblangnya kita harus meyakini dengan keimanan yang mendalam bahwa Islam sajalah satu-satunya agama Allah yang hak. Silahkan tuan-tuan meyembah agama tuan, bagi antum agama antum, bagi ana agama ana. 

Hal ini bukan berarti kita umat Islam tidak toleran terhadap agama lain. Tetapi jangan lupa, karena Allah Subhanna Wa Ta'ala sendiri yang menjamin bahwa hanya Islam sajalah agama yang hak diakui oleh Allah Subhanna Wa Ta'ala. Hal inilah yang diharapkan dengan sikap yang tegas dari seorang muslim/muslimah.

Sekali lagi sangat perlu digaris bawahi disini, bahwa bagi seorang muslim yang tidak mempuyai sikap yang demikian maka akan runtuhlah aqidahnya (keimannya), karena dia mengartikan bahwa agama lain itu juga benar dalam keimanannya. Hal ini akan membawa seseorang ketingkat syrik yang berarti menduakan agama Allah yang hak dengan agama lain. Yang berarti juga menyamakan Tuhan nya agama lain dengan Allah Subhanna Wa Ta'ala. Sedang syrik adalah perbuatan yang oleh Allah Subhanna Wa Ta'ala tidak akan ada ampunannya sama sekali karena sikap yang menyekutukan Allah Subhanna Wa Ta'ala dengan hal yang lain (wa nauzu billahi min dzalik). 

Rukun Iman pertama dalam Islampun menegaskan hal ini bahwa setiap muslim harus mempunyai keyakinan bahwa hanya Allah Subhanna Wa Ta'ala sajalah Tuhan yang satu yang kita sembah, tidak ada Tuhan selain NYA.

Identitas yang kedua, yaitu seorang muslim itu harus Kasih sayang untuk semua umat “rahmatan lil alamin.”

Umat Islam adalah umat yang di rahmati Allah Subhanna Wa Ta’ala dan kasih sayang kepada sesama. Apalagi kepada sesama muslim dimana saja. Bila semua umat muslim bersatu dimuka bumi Allah ini, maka musuh kita akan kalah. Tapi bila kita terpecah belah, mereka akan dengan mudah mengalahkan kita.

Sayangnya hal ini banyak sekali sekarang, terkadang kita melihat umat muslim yang seperti buih dilautan. Banyak sekali jumlahnya tapi mudah sekali diombang-ambingkan kesana kemari oleh yang bukan muslim (kafir). Penyebabnya tiada lain karena sebagian dari kita umat muslim terlalu cinta sekali dengan dunia dan melupakan akherat. Janganlah kita korbankan keabadian nikmat akherat yang kekal dengan kenikmatan dunia yang hanya sementara saja sifatnya.

Identitas yang ketiga, yaitu seorang muslim itu selalu mengharapkan “Ridho Allah.”

Seorang muslim harus yakin bahwa ada hidup sesudah mati dan ada akherat sesudah dunia. Berusahalah sekuat tenaga kita untuk mencari ridho Allah seakan-akan kita akan hidup beribu-ribu tahun lagi. Bertobat dan perkuatlah keimanan dalam diri kita masing-masing seakan-akan kita akan mati besok.

Kita harus selalu berprinsip bahwa apa-apa yang kita dapati dalam kehidupan kita sebagai rezeki Allah Subhanna Wa Ta'ala yang diridhoi Nya. Yang kita makan yang Allah ridho. Yang kita minum yang Allah ridho. Yang kita pakai juga yang Allah ridho dan lain sebagainya yang Allah ridhoi. 

Sayapun disini ingin sekali mengingatkan diri saya sendiri dan keluarga saya bahwa kita harus bekerja keras meluruskan keridhoan Allah Subhanna Wa Ta'ala didalam keluarga.

Identitas yang keempat, yaitu seorang muslim harus mendirikan “Shalat lima Waktu sehari semalam (Ruku dan Sujud).”

Umat Islam bukan saja diwajibkan "melaksanakan" shalat, tetapi harus "mendirikan" shalat. Shalat tidak hanya sekadar gerakan dan bacaan yang sifatnya ritual-individual, tetapi harus berdampak pada perilaku kita sehari-hari. Bahwa shalat merupakan "tiang agama" (imaduddin), dan yang tidak melaksanakannya berarti meruntuhkan agamanya, kita sudah sama-sama mahfum. Demikian pula bahwasanya shalat dapat mencegah diri pelakunya dari perbuatan keji dan munkar. Hal ini dijelaskan dalam surat Al An Kabuut ayat ke 45 sbb:

Allah Subhanna Wa Ta'ala berfirman: 

bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Masalahnya sekarang, mengapa tidak sedikit seorang muslim yang rajin melaksanakan shalat, tetapi perbuatan keji dan munkar tetap saja dilakukannya. Tentang hal ini, Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam pernah menyatakan, orang itu bukannya semakin dekat pada Allah Subhanna Wa Ta'ala melainkan semakin jauh (bu'da).

Bisa jadi, shalat yang tidak membuat seseorang menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar adalah shalat yang dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban dan "asal jadi". Kekhusyukan dan kesempurnaannya kurang diperhatikan. Atau karena shalat yang dilakukannya tidak berlandaskan keikhlasan melainkan riya, ingin dipuji orang, atau bermotif duniawi.

Firman Allah Subhanna Wa Ta'ala lainnya dalam surat Al Maa’uun berbunyi sbb: 

“Celakalah orang-orang yang shalat; yaitu orang yang lalai dalam shalatnya dan mereka yang riya (dalam shalatnya).” 

Shalat yang sesunguhnya bukanlah sekadar hanya melaksanakan gerakan dan bacaan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seorang Muslim bukan hanya dituntut "melaksanakan" shalat, tetapi "mendirikan" shalat (aqama shalah). Artinya, shalat tidak hanya sekadar gerak badan dan bacaan (ritual-individual) seperti orang berolah raga, tetapi harus pula tercermin dalam perilaku sehari-hari (shalat sosial). Semua pengakuan Allah Subhanna Wa Ta'ala sebagai Tuhan dan Muhammad Sallallahu Alayhi Wasallam sebagai Rasul, harus terbuktikan dalam perilaku kita sehari-hari, yang berupa ketaatan terhadap semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Shalat adalah simbol kepasrahan seorang Muslim pada Allah Subhanna Wa Ta'ala . Shalat menjadi simbol keislaman seseorang, karena hakikat Islam sendiri adalah "penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah," sebagaimana makna asal kata "Islam," aslama, yakni menyerahkan diri (tunduk, patuh pada Hukum Allah).

Ketika memulai shalat dengan takbir, sambil mengangkat kedua tangan, itu menjadi simbol pengakuan keagungan Allah Subhanna Wa Ta'ala. Tujuan hakiki dari shalat sendiri, menurut Ensiklopedi Islam, adalah pengakuan hati bahwa Allah Subhanna Wa Ta'ala sebagai pencipta adalah agung dan pernyataan patuh pada-Nya. Bagi seseorang yang telah melakukan shalat dengan penuh rasa takwa dan keimanan, hubungannya dengan Allah Subhanna Wa Ta'ala akan kuat, istiqamah dalam beribadah pada-Nya, dan menjaga ketentuan-ketentuan yang digariskan-Nya.

Shalat harus dilaksanakan secara khusyuk. Artinya, secara sungguh-sungguh, ikhlas karena Allah Subhanna Wa Ta'ala, tertib bacaan dan gerakannya, dan tidak lalai, tidak menunda-nunda, dan pikiran tidak ke mana-nama selagi shalat. Salah satu kunci mencapai kekhusyukan dalam shalat adalah mengerti apa yang diucapkan selama shalat, mulai dari bacaan takbir hingga salam. Artinya, mengerti dan memahami arti dari bacaan shalat. Jika kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan, sama halnya dengan mengigau. Kita tidak menyadari apa yang tengah diucapkan.

Karena itu, bagi kita yang belum mengerti atau mengetahui satu per satu arti dan makna bacaan shalat, mulai dari takbir, doa iftitah, surat Al-Fatihah, bacaan ruku', sujud, tahiyat, hingga salam, belum terlambat kiranya memulai untuk mencari tahu dan memahaminya.

Shalat bukanlah beban, melainkan kebutuhan pokok dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat juga merupakan mediator untuk mendapatkan pertolongan dan ampunan Allah Subhanna Wa Ta'ala, serta ketenangan jiwa.

”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (Al Baqarah:45).
Shalat pun merupakan sarana untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan (QS Al-Mukminun: 1, Al-Ma'arij: 19).

Apalagi shalat wajib lima kali dalam sehari semalam itu merupakan penghapus dosa sebagaimana air yang dipakai mandi dapat menghapuskan kotoran yang menempel dan ada di badan kita (HR Bukhari, Muslim, At-Turmudzi, An-Nasai, dari Abu Hurairah).

Dengan shalat akan tercipta hubungan yang amat dekat dengan Allah Subhanna Wa Ta’ala  (taqarrub), sehingga terasa adanya pengawasan dari-Nya terhadap segala perilaku kita, yang pada gilirannya akan memberikan ketenangan dalam jiwa sekaligus mencegah terjadinya kelalaian yang dapat memalingkan mata hati kita dari ketaatan pada-Nya (QS. 51:56)

Tiada perintah Allah Subhanna Wa Ta'ala yang seketat shalat. Ibadah ini wajib dilaksanakan setiap Muslim dalam kondisi apa pun, selama nyawa masih menyatu dalam raga. Tidak mampu berdiri, boleh sambil duduk. Tidak mampu sambil duduk, silakan sambil berbaring. Tidak heran, menurut hadis Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam, amal pertama yang akan dihisab di akhirat nanti adalah shalat kita masing-masing. Jika shalatnya baik, tanpa cela, maka akan baik pula seluruh amalnya; jika shalatnya jelek, maka akan buruk pulalah seluruh amalnya.

Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang tidak saja memenuhi syarat dan rukun, ditambah kekhusyukan dalam pelaksanaannya, tetapi juga berdampak pada kebaikan perilaku sehari-hari. Seluruh bacaan dan gerakan shalat, jika direnungkan, menyimbolkan sekaligus mencerminkan perilaku yang seharusnya dilakukan seorang muslim dalam kehidupannya.

Takbir -- sebagai pembuka shalat -- menunjukkan sebuah pengakuan dan sikap dasar, dalam kehidupan seorang muslim yang benar-benar sadr bahwa hanya Allah yang Maha Besar, sehingga hanya Dia pula yang ditaati, ditakuti, dan dipuji. Pengabdian, permohonan, dan penyandaran hidup hanya kepada Allah Subhanna Wa Ta'ala semata.

Gerakan-gerakan shalat seperti ruku', i'tidal, sujud, dan tahiyat merupakan simbol penghormatan hakiki kepada Allah. Tatkala sujud, kepala kita disejajarkan dengan tanah. Setidaknya hal itu bermakna, di hadapan Allah manusia dengan tanah sama-sama makhluk. Maka tak pantas jika kita berlaku angkuh, gila hormat, dan sebagainya, sebab pujian dan penghormatan hakiki hanya pantas diberikan kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala.

Shalat ditutup dengan salam, sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika menutup shalat itu kita mendoakan orang di sekitar kita agar diberi keselamatan dan keberkatan. Bacaan dan gerakan itu bermakna, seorang Muslim hendaknya menebar keselamatan dan kedamaian kepada sesama, bukan menebar benih kecelakaan, kerusuhan, atau permusuhan. "Jika engkau bertemu saudaramu (sesama Muslim), sampaikan salam kepadanya" (HR Abu Daud). Dalam hadits lain Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam menegaskan, "Seorang Muslim adalah dia yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya."

Muslim sejati tidak akan mengganggu orang lain dengan perkataan kotornya, umpatannya, atau ucapan-ucapan yang menyakitkan hati. Ia pun tidak akan mencelakakan orang lain dengan ulahnya. Muslim sejati senantiasa menghadirkan kemaslahatan dan manfaat bagi orang lain, bukan menjadi "trouble maker" atau pembawa bencana dan kesulitan bagi orang lain. "Sebaik-baik manusia ialah orang dapat memberi manfaat kepada manusia lain," demikian sabda Nabi Sallallahu Alayhi Wasallam dalam sebuah wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib.

Identitas yang kelima dari seorang muslim, yaitu dapat dilihat dari tanda bekas “ber Sujud.”

Umat ini ruku dan sujud dengan mempunyai sandaran vertikal kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala. Bila hidup kita sudah didasari atas ketergantungan kepada manusia, maka bersiap-siaplah untuk kecewa.

Dapat dilihat jelas sekali dari seorang muslim yang istiqomah dengan pancaran sinar yang muncul diwajahnya.  Jidatnya boleh hitam (bekas sujud) atau tidak terlihat sama sekali, tapi yang sangat penting dari tanda-tanda tadi yaitu karena mereka rajin sujud, maka timbul ikhlasnya. Karena rajin sujud, maka timbul rendah hatinya. Karena rajin sujud, maka timbul konaahnya. Karena rajin sujud, maka timbul tawadhonya. Inilah pengaruh sujud bagi seorang muslim/muslimah.




MENJAGA KEIMANAN KITA:

Karakter dari keimanan seseorang sebagaimana dikatakan oleh Rasullullah Salallahu Alayhi Wa Salam adalh selalu naik dan turun. Sehingga tidak aneh jika pada saat tertentu keimanan, semangat beribadah, dan melakukan ketaatan bertambah. Akan tetapi pada saat yang lain menjadi menurun. Namun demikian, turun naiknya keimanan harus tetap di kontrol secara baik sehingga fluktuasinya tidak membuat kita jatuh kepada titik iman yang paling rendah, bahkan kadang dapat merusak sama sekali. Wa naudzubillah.

Karena itu, ada beberapa petunjuk Allah Subhanna Wa Ta'ala dan Rasul Sallalahu Alayhi Wasallam yang sangat penting untuk menjaga fluktuasi keimanan tersebut dan bahkan membuatnya meningkat. Secara ringkasnya diantaranya ialah:

1. Pemahaman yang benar tentang Islam. Jika kita memahami Islam secara benar dan
utuh, insya Allah keimanan akan stabil.

2. Mempelajari dan membaca kisah-kisah orang saleh serta para nabi yang konsisten diatas jalan keimanan. ”Semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu. Itulah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS Hud: 120).

3. Banyak zikir dan ingat kepada Allah. Khususnya, ucapan lâ ilâha illallâh. Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Perbaharuilah keimanan kalian!” Lalu, ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami memperbaharui keimanan kami?” Beliau menjawab, “Perbanyaklah membaca lâ ilâha illallâh (HR Imam Ahmad).

4. Bersabar dalam menerima musibah, dalam meninggalkan maksiat, dan dalam melakukan ketaatan. “Jadikan sabar dan salat sebagai penolong.” (QS al-Nahl:1).

5. Memperbanyak ibadah. Sebab, ia akan mendatangkan cahaya dan menerangi jalanmu.

6. Tidak kagum diri. (Al Qashash: 78).

7. Selalu berdoa kepada Allah Subhanna Wa Ta'ala agar ditetapkan dalam keimanan. Karena itu, di antara doa-doa yang sering dipanjatkan Rasul Sallallahu Alayhi Wasallam adalah, “Ya Muqallibal quluub wal abshar, tsabbit qalbi ala diinik (Wahai Zat yang membolak-balik hati, teguhkan hatiku di atas agamamu).”

8. Berkumpul bersama orang-orang saleh. Bahkan, Rasul sendiri disuruh oleh Allah Subhanna Wa Ta'ala untuk tetap bersilahturahmi bersama orang-orang yang taat dan berdoa kepada Allah (QS al-Kahf: 28).

9. Selalu berpegangan kepada kitabullah.

Semoga penjelasan/peringatan ini bermanfaat untuk kita semua umat Islam; seperti pepatah mengatakan tak ada gading yang tak retak, atas segala kekurangan nya, mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena kebenaran yang hakiki adalah hanya milik Allah Subhanna Wa Ta’ala.  Wabil lahitaufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Tuesday, September 18, 2012

Pesan untuk Umat Islam

Assalamu'alaykum Warrahmatullahi Wabarakatuh:

Sahabat Pengajian Columbus dan sekitarnya bersama keluarga yang dirahmati Allah.
Saya ingin mengingatkan diri saya, keluarga saya dan sahabat semuanya, mengingat
suasana yang menghangat akhir2 ini dengan beredarnya film penghinaan terhadap nabi dan agama kita. Insya Allah, untuk kita umat Islam di seluruh dunia - untuk saling mengingatkan dan tidak terpancing dengan isue provokasi.

"Kekerasan dan brutalitas bukan cara yang Islami yang diajarkan oleh panutan kita
nabi Allah, habib Allah & rasul Allah, Muhammad Sallahu Alayhi Wassalam." Dibawah ini juga
ada tulisan yang dingatkan oleh imam Dr.Yusuf Qardhawi dan imam Shamsi Ali. Silahkan disimak - mudah2an bermanfaat buat kita semua, barokah wa rahmah. Mari kita semua saling mendoakan satu sama lain dan saling mengingatkan.


Wassalam,
BSAbdurrahman


PESAN SUBUH INI

Taujih Syaikh Yusuf Qardhawi Terkait Kewajiban Santun dalam demo-demo Membela Nabi SAW:

"Reaksi atas penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW adalah SAH (legal) dan hal yang kita kehendaki. Ini adalah KEWAJIBAN IMAN. Membela Nabi SAW adalah AMAL ISLAMI. Namun, seorang Muslim harus bertindak sesuai HUKUM ISLAM dan TELADAN dari NABI SAW. Kita tidak boleh BERBUAT yang bertentangan dengan ajaran Nabi SAW, padahal kita menganggap sedang membela-Nya.

Kaum Muslimin harus mengontrol kemarahannya. Kita harus fokus kepada tujuan kita. Kita harus menghentikan PENGHINAAN ini dan MENGHUKUM mereka yang bertanggung jawab. Dalam menjalankan tujuan ini, kita harus menghindari tindakan yang justru mengundang penghinaan yang sama, dan alih-alih hanya akan melindungi mereka yang melakukan penghinaan dengan dalih KEBEBASAN BEREKSPRESI.

Penghinaan atas keyakinan tidak memiliki tujuan lain kecuali menciptakan kekacauan. Dan menjawab provokasi ini dengan kekerasan hanya akan MEWUJUDKAN apa yang menjadi keinginan mereka (Kekacauan).

Kewajiban Muslim tidak hanya merespon penghinaan itu, namun juga memperkenalkan kehidupan, pesan moral dan nilai akhlak mulia Nabi kepada dunia.

Serangan barbar atas kedutaan AS BUKAN MERUPAKAN AJARAN ISLAM. Menurut hukum dan moralitas Islam yang kita wajib pegang teguh adalaah bahwa DUTABESAR, PARA PEDAGANG atau INDIVIDU DALAM IKATAN PERJANJIAN yang masuk ke negara Muslim harus DIJAGA KESELAMATANNYA. Nabi SAW telah melarang membunuh UTUSAN (duta besar)."

(Sebarkan
Nasihat ULAMA' Dunia DR. Yusuf Qardhawi)
Sent via BlackBerry from T-Mobile


PESAN DARI IMAM SHAMSI ALI

Temans, saya baru sempat menonton film penghinaan terhadap Rasul/Islam itu. Tentu menyakitkan sebab bagi kita Rasul itu adalah tauladan atas segala tauladan. Dan tentunya pada tataran 'imani' terjaga dari prilaku 'syaithoni' yg ingin digambarkan pada film itu. Tapi saya kemudian mencoba berfikir, lalu terbetiklah dibenak saya hal-hal berikut:

1. Jangankan di film ini, dalam Kitab suci mereka sekalipun kan para nabi dan rasul telah menjadi bulan-bulanan dengan prilaku yg tdk manusiawi. Nabi Daud merebut menyeleweng dgn isteri prajuritnya yg lagi berperang membela agama. Nabi Sulaeman dgn imajinasi wanita2 cantik. Nabi Luth yg menghamili putri sulungnya...dst, dst. Jadi prilaku ini memang menjadi bagian dari 'kejiwaan' atau bahkan 'iman' mereka.

2. Ini semakin menguatkan keyakinan kita akan kebenaran Al-Qur'an bahwa 'istihzaa' (pengolok-olokkan) Rasul dan penentangan kepada cahaya Allah itu bersifat abadi. Ingat kata: 'yuriiduuna li yuthfiuu.." menggambarkaan bahwa upaya-upaya seperti ini berketerusan. Apapun umat lakukan saat ini, tidak akan menghentikan upaya-upaya ini. Dari Salman Rushdi, kartun Nabi di Denmark, pembakaran Al-Qur'an, hingga yg ini, hanya bukti kebenaran Al-Qur'an.

3. Pembuatan film ini yg sangat 'tidak profesional' ini menggambarkan bahwa cara-cara yg rasional tdk lagi mampu menghentikan laju pergerakan da'wah Islam. Sehingga dengan sendirinya, film ini merupakan bukti 'keputus asaan' terhadap perkembangan da'wah Islam yang semakin bersinar di berbagai penjuru dunia, bahkan di masyarakat yang paling 'hostile' sekalipun.

4. Mereka tahu bahwa orang-orang Islam sekrg ini mengalami masa 'emosi mental' yg tinggi karena berbagai hal, antara lain, konflik internal dan external, khususnya di Timur Tengah dan Asia Selatan. Dgn sengaja mereka menyulut emosi itu lalu dijadikanm justifikasi bahwa Islam memang mengajarkan 'kemarahan dan kekerasan'. Di sini, umat harus mampu mengendalikan diri dan bersikap sebaliknya. Dgn ini mereka akan semakin sakit hati...

Pada akhirnya, satu hal yang perlu disadari umat ini adalah bahwa setiap 'aksi dan reaksi' yang kita ambil dalam menyikapi apapun akan memiliki dampak kepada Islam/Muslim itu sendiri. Oleh karenanya, mari belajar untuk lebih pintar, arif, dan dewasa dalam melihat dan menyikapi berbagai hal, termasuk film tersebut. Wallahu a'lam!


Thursday, April 5, 2012

Fabi ayyi aalaa e Rabbi kumaa tukazzibaan




Allah SWT - He is Lord of the two sunrises and Lord of the two sunsets. So which of the favors of your Lord would you deny? (Ar Rahman : 17 -18).

Subhanallah, Allahu Akbar, praise Allah – GOD Almighty. I was looking at the video by Cary & Michael Huang (http://htwins.net), thank you for the twins. When watching that video, it always come to my mind “How small we are compare to the CREATOR of the Universe.”



Distances in space are almost incomprehensible for me. With all that is out there, the laws of probability would predict that there exists in the universe other life form as we know them??? Mankind are working on exploring the science and technology behind all those creations – we take everything for granted, please forgive our sins ya Allah ya Robbi. This is just a reminder, to remind myself, my family and all sahabat!


In addition to that, in the last surah of Al Baqarah (2), verses 286, Allah SWT said: Allah does not charge/burden a soul except [with that within] its capacity. He will have [the consequence of] what [good] he has gained, and he will bear [the consequence of] what [evil] he has earned. "Ya Allah - Our Lord, please do not impose blame upon us if we have forgotten or erred. Ya Robbi - Our Lord, and lay not upon us a burden like that which You laid upon those before us. Ya Rahman, ya Rahim - Our Lord, and burden us not with that which we have no ability to bear. And pardon us; and forgive us; and have mercy upon us. You are our guidance and protector, so give us victory over the disbelieving people."

May Allah SWT bless you all.



Wassalam - Sincerely,

Bambang Sartono Abdurrahman



Saturday, February 25, 2012

Tanggapan DR. Adian Husaini Untuk Film "?" karya Hanung Bramantyo


Tambahan Komentar:

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Sahabatku seiman dan sekeyakinan, mukminin wal mukminat rahimakumullah,
Islam adalah agama terakhir yang dijaga langsung oleh Allah SWT kemurniannya. Kalau kita bicara mengenai toleransi dalam Islam, silahkan buka bab Toleransi (manusia & hubungan dgn masyarakat) dalam Al Qur’an Al Karim. Islam adalah agama yang paling toleran yang di wahyukan kepada Rasulullah SAW kepada semua umat pengikut beliau. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa toleransi dalam beragama sangat penting, namun hal yang harus diperhatikan adalah bukan berarti kita dianjurkan untuk mengorbankan akidah ke islaman kita. Bagi kita umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jamaah) dalilnya jelas Surat ke 109 (Al Kafirun): ayat 1–6.

Dalil lainnya yaitu dalam Q.S. At Tahriim, ayat 6, yang bunyinya: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Sekedar mengingatkan diri saya pribadi, keluarga saya dan sahabat lainnya. Insha Allah, bermanfaat.

Wassalaamu’alaykum Wr.Wb.
Bambang Sartono Abdurrahman

Friday, January 28, 2011

KEMULIAAN MEMBACA & MENGKAJI AL QUR’AN

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW, dengan melalui utusannya – malaikat Jibril A.S. Al-Qur’an adalah sumber hukum yang pertama bagi kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran serta kemuliaan para pembacanya. Firman Allah SWT dalam Al Qur’an, surat Faathir [35], ayat 29:


“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”


Dapat dilihat dari ayat diatas bagaimana Allah SWT sendiri yang menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah ilmu yang paling mulia, karena itulah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya bagi orang lain, mendapatkan kemuliaan dan kebaikan dari pada belajar ilmu yang lainya. Tentunya juga dengan diikuti oleh syarat-syarat lainnya agar pembelajaran tadi berkah wa rahmah, bermanfaat dunia wal akherah, yaitu dengan mendirikan shalat, membayar infaq (zakat dan sadaqah) baik secara terang2an maupun secara diam2. Maka, pada akhirnya Allah SWT akan menempatkan mereka2 di tempat yang terpuji (perniagaan yang tidak pernah merugi dengan Allah SWT).

Dalam salah satu hadits, dari Utsman bin Affan r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari).


CIRI KARAKTERISTIK ORANG BERTAQWA

Hanya orang yang bertaqwa sajalah yang mau menggunakan akalnya mempelajari Al Qur’an. Sebagai salah satu karakteristik dari orang yang bertaqwa (hanya mengabdi dan takut kepada Allah) yaitu dapat dilihat dalam surat Al Baqarah [2], ayat 1 – 5 yang isinya adalah sbb:


1. Alif laam miin.

2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,

3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

4. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

5. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.


Jadi dapat kita lihat didalam ayat-ayat tersebut diatas bahwa seseorang yang bertaqwa (takut kepada Allah) akan beriman dengan keteguhan hatinya mengaplikasi semua perintah dan anjuran dari Allah SWT. Karena merekalah orang-orang yang melakukan hal-hal dibawah ini:


  • Beriman kepada yang ghoib (sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan oleh mata hatinya/kolbunya).
  • Mendirikan shalat (minimal yang wajib 5 waktu), apalagi bila ditambahkan dengan yang sunat seperti: Tahajud, Dhuha dll.
  • Menafkahkan sebagian dari rezkinya (Zakat, Infaq dan Sadaqah) dengan keikhlasan yang penuh karena Allah SWT semata (menginginkan ridho Allah SWT saja).
  • Beriman kepada kitab2 Allah (termasuk yang terakhir Al Qur’an) untuk dikaji/dibaca dan di laksanakan perintah yang ada didalamnya.
  • Beriman kepada hari akhirat yang kekal abadi.


AL QUR’AN SEBAGAI KETERANGAN, PETUNJUK DAN PELAJARAN

Dapat kita lihat dalam surat Ali Imran [3], ayat 138 – 139, yang bunyinya sbb:


138. (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

139. janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.



Pada ayat-ayat tersebut diatas, Allah SWT sendiri yang menegaskan, bahwa Al Qur’an itu sebagai Petunjuk dan Pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa. Memang mempelajari dan mengkaji Al Qur’an itu tidak mudah. Orang Amerika bilang “It’s easier said than done.” Mudah di sebut-sebut/diproklamirkan, tapi tidak mudah untuk melaksanakannya.


Namun untuk kita orang-orang bertaqwa, muslimin dan muslimat, mukminin wal mukminat akan terasa mudah melakukannya bila kita sadari karakteristik dari orang-orang bertaqwa tersebut diatas. Dengan kesadaran dan keimanan yang terus kita asah setiap saat, maka Allah SWT sendirilah yang akan memberikan reward Nya kepada kita dengan derajat yang tertinggi. Bukankah ini suatu pendorong dan motivasi kita untuk tidak bersikap lemah menjaga keimanan kita? Karne, dengan demikian, Allah SWT sendiri jugalah yang akan menghibur kita dalam kesedihan kita nantinya.


Keutamaan membaca Al-Qur’an di malam hari


Suatu hal yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur’an pada malam hari. Lebih utama lagi kalau membacanya pada waktu shalat. Firman Allah SWT dalam Ali Imran [3], ayat 113 - 114:


113. mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).

114. mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang Munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.


Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ini menyebutkan bahwa ayat ini turun kepada beberapa ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Asad bin Ubaid, Tsa’labah bin Syu’bah dan yang lainya. Mereka selalu bangun tengah malam dan melaksanakan shalat tahajjud serta memperbanyak membaca Al-Qur’an di dalam shalat mereka. Allah memuji mereka dengan menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh, seperti diterangkan pada ayat berikutnya.

Tidak ada seorangpun yang dapat me-rubah Al Qur’an. Allah SWT sendiri yang kemudian menyempurnakan kitab Al Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk di ajarkan kepada umat Islam dimana, kepada siapa dan kapan saja. Lihat surat Al Maa-idah [5], ayat 3:


"diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Maka pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."


PERINGATAN KEPADA UMAT ISLAM DALAM MEMBACA, MENGKAJI DAN BELAJAR AL QUR’AN


  1. Jangan riya’ dalam membaca Al Qur’an

Karena membaca Al-Qur’an merupakan suatu ibadah, maka wajiblah kita ber-ikhlas tanpa dicampuri niat apapun. Firman Allah SWT:

“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menuaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5).


Kalau timbul sifat riya’ saat kita membaca Al-Qur’an tersebut, kita harus cepat-cepat membuangnya, dan mengembalikan niat kita, yaitu hanya karena Allah. Karena kalau sifat riya’ itu cepat-cepat disingkirkan maka ia tidak mempengaruhi pada ibadah membaca Al-Qur’an tersebut. (lihat Tafsir Al ‘Alam juz 1, hadits yang pertama).


Kalau orang membaca Al-Qur’an bukan karena Allah tapi ingin dipuji orang misalnya, maka ibadahnya tersebut akan sia-sia. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi was salam bersabda, artinya:

“Dan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an maka dibawalah ia (dihadapkan kepada Allah), lalu (Allah) mengenalkannya (mengingatkannya) nikmat-nikmatnya, iapun mengenalnya (mengingatnya) Allah berfirman: Apa yang kamu amalkan padanya (nikmat)? Ia menjawab: Saya menuntut ilmu serta mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an padaMu (karena Mu). Allah berfirman: Kamu bohong, tetapi kamu belajar agar dikatakan orang “alim”, dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan “Qari’, maka sudah dikatakan (sudah kamu dapatkan), kemudian dia diperintahkan (agar dibawa ke Neraka) maka diseretlah dia sehingga dijerumuskan ke Neraka Jahannam.” (HR. Muslim)


Wanaudzubillahi min dzalik, semoga kita terpelihara dari perasaan riya’ tadi …. amin ya Robbal alamin.


  1. Jangan menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dunia.

Misalnya untuk mendapatkan harta, agar menjadi pemimpin di masyarakat, untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, agar orang-orang selalu memandangnya dan yang sejenisnya. Firman Allah SWT:

“…Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya kebahagianpun di akhirat.” (As-Syura: 20).

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki …” (Al Israa’ : 18)


  1. Jangan mencari makan dari Al-Qur’an

Rasulullah SAW bersabda:

“Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya (tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya.” (HR. Ahmad, Shahih).


Imam Al-Bukhari dalam kitab shahihnya memberi judul satu bab dalam kitab Fadhailul Qur’an, “Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur’an dan makan denganNya”, Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.


Diriwayatkan dari Imran bin Hushain r.a. bahwasanya dia sedang melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an di hadapan suatu kaum. Setelah selesai membaca iapun minta imbalan. Maka Imran bin Hushain berkata:

Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:“Barangsiapa membaca Al-Qur’an hendaklah ia meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Qur’an lalu ia meminta-minta kepada manusia dengannya (Al-Qur’an) (HR. Ahmad dan At Tirmizi dan ia mengatakan: hadits hasan)


Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur’an para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti ‘Atha, Malik dan Syafi’i serta yang lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan hal tersebut. Wallahu A’lam.


  1. Jangan meninggalkan Al-Qur’an.

Firman Allah SWT dalam surat Al Furqan [25], ayat 30:

berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan".

Sebagian orang mengira bahwa meninggalkan Al-Qur’an adalah hanya tidak membacanya saja, padahal yang dimaksud di sini adalah sangat umum. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini. Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud meninggalkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut:


  • Apabila Al-Qur’an di bacakan, lalu yang hadir menimbulkan suara gaduh dan hiruk pikuk serta tidak mendengarkannya.
  • Tidak beriman denganNya serta mendustakanNya
  • Tidak memikirkanNya dan memahamiNya
  • Tidak mengamalkanNya, tidak menjunjung perintahNya serta tidak menjauhi laranganNya.
  • Berpaling dariNya kepada yang lainnya seperti sya’ir nyanyian dan yang sejenisnya.

Semua ini termasuk meninggalkan Al-Qur’an serta tidak memperdulikan-nya. Semoga kita tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur’an. Amin.


  1. Jangan ghuluw terhadap Al-Qur’an

Maksud ghuluw di sini adalah berlebih-lebihan dalam membacaNya.

Diceritakan dalam hadits yang shahih dari Abdullah bin Umar radhiyallah ‘anhu beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah benar bahwa ia puasa dahr (terus-menerus) dan selalu membaca Al-Qur’an di malam hari. Ia pun menjawab: “Benar wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintah padanya agar puasa seperti puasa Nabi Daud alaihis salam, dan membaca Al-Qur’an khatam dalam sebulan. Ia pun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bacalah pada setiap 20 hari (khatam). Iapun menjawab saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah berasabda : Bacalah pada setiap 10 hari. Iapun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah pada setiap 7 hari (sekali khatam), dan jangan kamu tambah atas yang demikian itu.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abdu Rahman bin Syibl radhiyallah ‘anhu dalam hadits yang disebutkan diatas:

“Dan janganlah kamu ghuluw padanya. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).

Dibawah ini ada juga beberapa ayat2 dalam Al Qur’an yang menjelaskan dan menyinggung mengenai Al Qur’an:

Qur’an itu sebagai Mujizat dari Allah SWT, lihat surat Al Israa’ [17], ayat 9:


”Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”


Lihat juga surat Al Israa'[17], ayat 41:


”dan Sesungguhnya dalam Al Quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).”


Lihatlah gambaran bagaimana pentingnya membaca Al Qur’an dlm surat Al A’raaf [7], ayat 40:


“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.”


Artinya, doa dan amal mereka2 yang meyombongkan diri thd Al Qur’an tidak akan diterima oleh Allah SWT. Mereka juga tidak mungkin masuk surga sebagaimana tidak mungkin masuknya unta ke lubang jarum (khiasan kata untuk hal yang tidak mungkin terjadi/adanya).

Begitu juga Allah SWT akan meninggikan harkat seseorang yang membaca Al Qur’an (lihat surat Al A’raaf [7], ayat 176:


“dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”


Maka pada akhirnya, akan dipenuhilah jahanam2 itu oleh orang2 yang lalai, seperti dalam firman Allah SWT dalam surat Al A’raaf [7], ayat 179:


“dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.”


Al Qur’an di permudah bagi orang-orang yang mau mengambilnya sebagai pelajaran. Hal ini bahkan di-ulang2 beberapa kali oleh Allah SWT (sebagai peringatan) dalam surat yang sama (Al Qamar [54]), ayat 17, 22, 32 dan 40:


17. dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?

22. dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?

32. dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?

40. dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?


Sebagai penutup, dalam surat Faathir [35], ayat 29 – 30 Allah SWT berfirman:


29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

30. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.


Keterangan mengenai huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya.


Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah SWT dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad SAW semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.


Dari suatu riwayat sahabat Anas bin Malik r.a. berkata; Rasulullah SAW bersabda yang bunyinya:

”Siapa yang ingin melihat orang yang dimerdekakan Allah dari Neraka, maka lihatlah para murid (pelajar-pelajar agama), maka demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan Nya, tiada seorang pelajar yang hilir-mudik ke pintu orang Alim melainkan Allah menulis untuknya.”


Oleh karena itu, maka bagi tiap-tiap huruf dalam Al Qura’an yang dipelajarinya (i.e tahlil, tajwid, mahkrodnya) dan tiap-tiap langkah sama dengan ibadat satu tahun, dan untuk tiap langkah satu kota di syurga. Demikian juga, setiap langkah perjalanannya menemui/menghadiri majlis ta’lim (dakwah) dimintakan ampunannya oleh bumi, dan setiap pagi dan petang tetap diampunkan dosanya, dan disaksikan oleh para malaikat bahkan mereka berkata: Mereka inilah yang dimerdekakan oleh Allah dari api neraka.”


Riwayat lainnya dari Mu'adz bin Jabal r.a berkata; belajarlah ilmu agama karena; Belajarnya itu Hasanat (kebaikan) dan Mencari ilmunya itu Ibadat, dan Mengingat-ingatinya (menghafalnya) disamakan dengan Bertasbih kepada Allah SWT, dan Menyelidikinya disejajarkan dengan Berjihad fi sabililLah, dan Mengajarkannya kepada yang tidak mengetahui (ber Dakwah) itu sama dengan ber Sodeqah, dan Memberikannya kepada yang berhak (ahlinya) itu disamakan dengan ber Taqqarub (mendekatkan diri dengan Allah).


Ilmu yang kita semua pelajari di pengajian kita ini adalah jalan untuk mencapai tingkat-tingkat ke syurga. Dia akan menghibur kita sewaktu kita dalam kesendirian dan sebagai kawan dalam pengasingan, penolong dalam menghadapi kesukaran dan tentunya penunjuk jalan kesenangan.


Ilmu / Dakwah itu juga merupakan keindahan di tengah-tengah kawan kerabat, dan senjata untuk menghadapi musuh. Seperti telah disinggung diatas, Allah SWT sendiri yang berjanji meninggikan derajat beberapa golongan kaum (umat) dengan ilmu itu sehingga pengamalnya dijadikan pimpinan yang dapat diikuti jejaknya, ditiru perbuatan baiknya. Bahkan tanpa disadari, Malaikatpun suka berkawan dengan mereka, dan mengusap-usap mereka dengan sayapnya dan didoakan oleh semua benda basah maupun yang kering, dan ikan-ikan di laut dan semua serangga, dan binatang-binatang buas di darat dan laut dan juga semua ternak.


Sebab ilmu itu dapat menghidupkan hati dari ketidak tahuan (ignorance), kebodohan dan merupakan pelita di kegelapan. Dengan ilmu tadi kita juga diberikan kekuatan dari segala kelemahan dan merupakan alat untuk mencapai derajat abrar dan yang baik-baik di dunia dan di akhirat. Dengan berilmu inilah kita mengenal yang halal dari yang haram atau kebalikannya, dan dengan ilmu itu kita dituntun untuk beramal (bersodeqah, berinfaq), sedang amal tadi tetap menjadi pengikut kita sampai hari akhir. Jadi ilmu dan berdakwah itu diberikan Allah SWT kepada orang-orang yang akan bahagia dan diharamkan dari orang-orang yang celaka dan rugi. Semoga bermanfaat untuk kita semua, wallahu ‘a’lam bishshawab.


Rujukan Penulisan:

  • Keterangan Ustadz Najamuddin Shiddiq di Mini Sanlat/Tausiah di pengajian-Columbus, Ohio, 25 – 27 Nopember 2010
  • Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 306
  • Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (Muhktasar)
  • Fathu Al Bari jilid 10 kitab fadhailil Qur’an, Al Hafiz IbnuHajar
  • At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an, An Nawawi Tahqiq Abdul Qadir Al Arna’uth
  • Fadhail Al-Qur’an, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Tahqiq Dr. Fahd bin Abdur Rahman Al Rumi

Iftar Bersama di Masjid An Noor - 1435H

Muslims, guests break Ramadan fast together



By JoAnne Viviano
The Columbus Dispatch • Friday July 18, 2014 4:08 AM

See the Video by clicking this!

Alka Ahuja and her husband, Rajiv, had driven by the Noor Islamic Cultural Center in Hilliard many times, often wondering what went on inside the walls of the massive structure.

This week, they found out.

The Hilliard couple, Hindus originally from India, attended the center’s Experiencing Ramadan event on Wednesday. The interfaith gathering introduced non-Muslims to Islam and Ramadan, a 30-day period of reflection during which Muslims fast from sunrise to sunset.

“We felt there was so much hunger and demand on people’s part to learn about religious diversity as well as cultural diversity,” said Imran Malik, chairman of the board of the American Islamic Waqf, which oversees the center. “The more we know about each other, the safer, more-secure communities we can build together.”

Participants in the event received a brief overview of Islam, toured the center and watched evening prayers. They then were treated to a daily fast-breaking meal, also called an iftar, dining on dates, meats, rice, hummus, salad and baklava.

Youngsters who attend the mosque offered their own perspectives, telling the guests some of the foods used to break the fast in areas such as Somalia, Sri Lanka, India, Indonesia and Pakistan. The children spoke of family time, gathering at the mosque for late prayers, meals and fun, and waking before sunrise to eat.
One boy said the early meal is his favorite part of Ramadan, and his favorite food is scrambled eggs and pancakes.

“Thank God that IHOP’s open at 3 a.m.,” he quipped to laughter.

Among the guests was Collette Tucker of Dublin, who said she recently realized that she was taking her questions about Islam to her 11-year-old daughter, whose best friend is Muslim.

“I’d never experienced anything Muslim,” said Tucker, who attended with daughter Cameron and her 13-year-old son, Calvin. “I thought it was awesome. I wish I hadn’t waited so long.”

Malik said the center used to host a community meal annually but hadn’t in recent years because the dates of Ramadan are based on a lunar calendar and sunset times were late. The idea was reignited by the Safe Alliance of Interfaith Leaders, a group that seeks to increase cross-faith understanding in the Hilliard and Dublin areas.

More than 300 people responded to the invitation from Noor, where leaders are considering other ways to host interfaith gatherings throughout the year.

Christina Butler, president of the Interfaith Association of Central Ohio, said such events foster understanding.

“They bring a diverse group of people together for an evening of talking and sharing and certainly eating,” she said. “So it’s just another time to be with each other as human beings in a joyful atmosphere of celebration and sharing and learning about one another.”

Much like periods of fasting in Christian and Jewish traditions, Ramadan allows participants to experience how the needy might feel when they must live without food, water, shelter and clothing, Malik said. The observance ends with the Eid al-Fitr holiday, expected this year at sundown on July 28.

“The idea is you practice this on your own self for 30 days in a state of worship and individual form, and then take it to the next level and build the outreach, build the servicing of the community,” he said. “That is the actual essence of Ramadan.”

The Ahujas said they were intrigued enough by the event that they will consider returning to the center for an Islam 101 course.

“I didn’t know anything,” said Mrs. Ahuja, who was invited by a Muslim friend. “I think people need to know more about each other’s religions.”

jviviano@dispatch.com
@JoAnneViviano




Taraweeh di Masjid An Noor

QS At Tahrim - 6

Firman Allah SWT: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

Pertemuan Pertama

Alhamdulillah segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Selawat dan salam juga tercurah pada junjugan kita Rasulullah SAW dan keluarga beliau serta para sahabat, pada Sabtu sore, 29 Maret 2008 (21 Rabil’ ul Awal 1429H) kami grup Pengajian Columbus bertemu pertama kali dikediaman bapak Abbas dan ibu Fera Gitosuputro. Photo2 pada pertemuan pertama dapat dilihat pada link berikut: http://www.flickr.com/photos/22755746@N03/sets/72157604330688511/


Pada kesempatan mana kami mengundang juga Bapak Farizal, PhD dari Toledo. Beliau menyambut hangat undangan grup kami yang sekaligus menyumbangkan pesan2 ceramah beliau. Salah satu pesan beliau yaitu selain mengaji dan berdoa serta bertukar fikiran bersama, jadikanlah pula tempat pertemuan pengajian kita sebagai wadah memperkokoh tali silahturahmi sesama muslim. Jazakumullah khairan kathira pak Farizal atas wejangan2nya.