Sahabat Pengajian Columbus dan sekitarnya bersama keluarga yang dirahmati Allah.
Saya ingin mengingatkan diri saya, keluarga saya dan sahabat semuanya, mengingat
suasana yang menghangat akhir2 ini dengan beredarnya film penghinaan terhadap nabi dan agama kita. Insya Allah, untuk kita umat Islam di seluruh dunia - untuk saling mengingatkan dan tidak terpancing dengan isue provokasi.
"Kekerasan dan brutalitas bukan cara yang Islami yang diajarkan oleh panutan kita
nabi Allah, habib Allah & rasul Allah, Muhammad Sallahu Alayhi Wassalam." Dibawah ini juga
ada tulisan yang dingatkan oleh imam Dr.Yusuf Qardhawi dan imam Shamsi Ali. Silahkan disimak - mudah2an bermanfaat buat kita semua, barokah wa rahmah. Mari kita semua saling mendoakan satu sama lain dan saling mengingatkan.
Wassalam,
BSAbdurrahman
PESAN SUBUH INI
Taujih Syaikh Yusuf Qardhawi Terkait Kewajiban Santun dalam demo-demo Membela Nabi SAW:"Reaksi atas penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW adalah SAH (legal) dan hal yang kita kehendaki. Ini adalah KEWAJIBAN IMAN. Membela Nabi SAW adalah AMAL ISLAMI. Namun, seorang Muslim harus bertindak sesuai HUKUM ISLAM dan TELADAN dari NABI SAW. Kita tidak boleh BERBUAT yang bertentangan dengan ajaran Nabi SAW, padahal kita menganggap sedang membela-Nya.
Kaum Muslimin harus mengontrol kemarahannya. Kita harus fokus kepada tujuan kita. Kita harus menghentikan PENGHINAAN ini dan MENGHUKUM mereka yang bertanggung jawab. Dalam menjalankan tujuan ini, kita harus menghindari tindakan yang justru mengundang penghinaan yang sama, dan alih-alih hanya akan melindungi mereka yang melakukan penghinaan dengan dalih KEBEBASAN BEREKSPRESI.
Penghinaan atas keyakinan tidak memiliki tujuan lain kecuali menciptakan kekacauan. Dan menjawab provokasi ini dengan kekerasan hanya akan MEWUJUDKAN apa yang menjadi keinginan mereka (Kekacauan).
Kewajiban Muslim tidak hanya merespon penghinaan itu, namun juga memperkenalkan kehidupan, pesan moral dan nilai akhlak mulia Nabi kepada dunia.
Serangan barbar atas kedutaan AS BUKAN MERUPAKAN AJARAN ISLAM. Menurut hukum dan moralitas Islam yang kita wajib pegang teguh adalaah bahwa DUTABESAR, PARA PEDAGANG atau INDIVIDU DALAM IKATAN PERJANJIAN yang masuk ke negara Muslim harus DIJAGA KESELAMATANNYA. Nabi SAW telah melarang membunuh UTUSAN (duta besar)."
(Sebarkan
Nasihat ULAMA' Dunia DR. Yusuf Qardhawi)
Sent via BlackBerry from T-Mobile
PESAN DARI IMAM SHAMSI ALI
Temans, saya baru sempat menonton film penghinaan terhadap Rasul/Islam itu. Tentu menyakitkan sebab bagi kita Rasul itu adalah tauladan atas segala tauladan. Dan tentunya pada tataran 'imani' terjaga dari prilaku 'syaithoni' yg ingin digambarkan pada film itu. Tapi saya kemudian mencoba berfikir, lalu terbetiklah dibenak saya hal-hal berikut:1. Jangankan di film ini, dalam Kitab suci mereka sekalipun kan para nabi dan rasul telah menjadi bulan-bulanan dengan prilaku yg tdk manusiawi. Nabi Daud merebut menyeleweng dgn isteri prajuritnya yg lagi berperang membela agama. Nabi Sulaeman dgn imajinasi wanita2 cantik. Nabi Luth yg menghamili putri sulungnya...dst, dst. Jadi prilaku ini memang menjadi bagian dari 'kejiwaan' atau bahkan 'iman' mereka.
2. Ini semakin menguatkan keyakinan kita akan kebenaran Al-Qur'an bahwa 'istihzaa' (pengolok-olokkan) Rasul dan penentangan kepada cahaya Allah itu bersifat abadi. Ingat kata: 'yuriiduuna li yuthfiuu.." menggambarkaan bahwa upaya-upaya seperti ini berketerusan. Apapun umat lakukan saat ini, tidak akan menghentikan upaya-upaya ini. Dari Salman Rushdi, kartun Nabi di Denmark, pembakaran Al-Qur'an, hingga yg ini, hanya bukti kebenaran Al-Qur'an.
3. Pembuatan film ini yg sangat 'tidak profesional' ini menggambarkan bahwa cara-cara yg rasional tdk lagi mampu menghentikan laju pergerakan da'wah Islam. Sehingga dengan sendirinya, film ini merupakan bukti 'keputus asaan' terhadap perkembangan da'wah Islam yang semakin bersinar di berbagai penjuru dunia, bahkan di masyarakat yang paling 'hostile' sekalipun.
4. Mereka tahu bahwa orang-orang Islam sekrg ini mengalami masa 'emosi mental' yg tinggi karena berbagai hal, antara lain, konflik internal dan external, khususnya di Timur Tengah dan Asia Selatan. Dgn sengaja mereka menyulut emosi itu lalu dijadikanm justifikasi bahwa Islam memang mengajarkan 'kemarahan dan kekerasan'. Di sini, umat harus mampu mengendalikan diri dan bersikap sebaliknya. Dgn ini mereka akan semakin sakit hati...
Pada akhirnya, satu hal yang perlu disadari umat ini adalah bahwa setiap 'aksi dan reaksi' yang kita ambil dalam menyikapi apapun akan memiliki dampak kepada Islam/Muslim itu sendiri. Oleh karenanya, mari belajar untuk lebih pintar, arif, dan dewasa dalam melihat dan menyikapi berbagai hal, termasuk film tersebut. Wallahu a'lam!