Kata Pengantar


Assalamu`alaykum Wr.Wb.


Bapak, ibu, saudara/i dan sahabat sekeluarga yang dirahmati Allah SWT:


Kami menyambut dengan gembira keberadaan website Pengajian-Columbus yang digagas oleh beberapa anggota jemaah Pengajian-Columbus pada pertemuan awal, tanggal
29 Maret 2008 (21 Rabil’ul Awal 1429H). Pertama-tama kami ucapkan puji syukur kehadirat Illahi Rabbi, shalawat dan salam tercurah kepada jujungan kita, Nabiallah, Rasulullah SAW. Alhamdulillah, kita semua masih diberikan nikmat iman Islam. Terima kasih atas waktu yang telah diluangkan oleh beberapa kawan-kawan sekalian sehingga terwujudnya website ini.

Keberadaan website ini, yang insya Allah, selain akan mengintensifkan silaturrahim di antara anggota masyarakat Muslim Indonesia di Columbus, Ohio dan sekitarnya, seperti Athens, Dayton, Cleveland dan Toledo juga dapat menambah dan membagi informasi, pengetahuan dan wawasan bagi kita semua. Begitu pula untuk sebagian dari kita yang sekarang tinggal di luar Ohio.

Pengajian-Columbus adalah wadah untuk komunikasi dan memperdalam pengetahuan agama (dakwah) bagi siapa saja yang berminat memakmurkannya. Selain itu pengajian ini baik yang dua mingguan maupun yang bulanan/waktu-waktu tertentu berfungsi sebagai wadah untuk saling mengajak kepada kebaikan serta menjaga diri dari perbuatan yang merugikan atau merusak; saling menasehati dan mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran dengan beristiqomah. Adanya tempat berkumpul yang diisi dengan pengajian untuk menanamkan nilai-nilai etika-moral dan spiritual bagi keluarga kita adalah hal yang tidak terkira nilainya dalam kehidupan bermasyarakat seperti di Columbus, Ohio ini.


Era informasi dan globalisasi memang menuntut pendekatan dan cara-cara baru termasuk dalam penanaman dan sosialisasi nilai-nilai agama. Teknologi komunikasi seperti internet yang terus mengalami kemajuan luar biasa pesat sebagaimana juga sarana yang lain bisa berdampak positif maupun negatif, bisa bermanfaat atau pun merusak, menyebarkan kebaikan ataupun juga keburukan. Penyebaran pengetahuan, ide, nilai-nilai dan gaya hidup adalah di antara yang paling kita rasakan. Budaya konsumtif atau konsumerisme dan pop culture adalah yang paling cepat penyebarannya, terutama bagi warga muda, dalam hal ini anak-anak, generasi penerus kita. Konsumerisme membawa pada materialisme di mana manusia lebih tertarik pada pemilikan barang atau benda yang memberi kenikmatan fisik-jasmani dan kepuasan lahiriah yang artifisial ketimbang nilai-nilai kemanusiaan dan kebahagiaan batin. Demikian pula budaya pop lebih berfungsi untuk menggairahkan dorongan nafsu rendah yang mematikan jiwa dan kerohanian.


Diharapkan banyak sahabat lainnya warga Pengajian ini yang dapat mengisinya. Semoga pula website ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk tujuan yang telah dijelaskan di atas. Kami dapat dihubungi melalui:



Wassalam,

Kordinator Pengajian-Columbus



Tuesday, September 18, 2012

Pesan untuk Umat Islam

Assalamu'alaykum Warrahmatullahi Wabarakatuh:

Sahabat Pengajian Columbus dan sekitarnya bersama keluarga yang dirahmati Allah.
Saya ingin mengingatkan diri saya, keluarga saya dan sahabat semuanya, mengingat
suasana yang menghangat akhir2 ini dengan beredarnya film penghinaan terhadap nabi dan agama kita. Insya Allah, untuk kita umat Islam di seluruh dunia - untuk saling mengingatkan dan tidak terpancing dengan isue provokasi.

"Kekerasan dan brutalitas bukan cara yang Islami yang diajarkan oleh panutan kita
nabi Allah, habib Allah & rasul Allah, Muhammad Sallahu Alayhi Wassalam." Dibawah ini juga
ada tulisan yang dingatkan oleh imam Dr.Yusuf Qardhawi dan imam Shamsi Ali. Silahkan disimak - mudah2an bermanfaat buat kita semua, barokah wa rahmah. Mari kita semua saling mendoakan satu sama lain dan saling mengingatkan.


Wassalam,
BSAbdurrahman


PESAN SUBUH INI

Taujih Syaikh Yusuf Qardhawi Terkait Kewajiban Santun dalam demo-demo Membela Nabi SAW:

"Reaksi atas penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW adalah SAH (legal) dan hal yang kita kehendaki. Ini adalah KEWAJIBAN IMAN. Membela Nabi SAW adalah AMAL ISLAMI. Namun, seorang Muslim harus bertindak sesuai HUKUM ISLAM dan TELADAN dari NABI SAW. Kita tidak boleh BERBUAT yang bertentangan dengan ajaran Nabi SAW, padahal kita menganggap sedang membela-Nya.

Kaum Muslimin harus mengontrol kemarahannya. Kita harus fokus kepada tujuan kita. Kita harus menghentikan PENGHINAAN ini dan MENGHUKUM mereka yang bertanggung jawab. Dalam menjalankan tujuan ini, kita harus menghindari tindakan yang justru mengundang penghinaan yang sama, dan alih-alih hanya akan melindungi mereka yang melakukan penghinaan dengan dalih KEBEBASAN BEREKSPRESI.

Penghinaan atas keyakinan tidak memiliki tujuan lain kecuali menciptakan kekacauan. Dan menjawab provokasi ini dengan kekerasan hanya akan MEWUJUDKAN apa yang menjadi keinginan mereka (Kekacauan).

Kewajiban Muslim tidak hanya merespon penghinaan itu, namun juga memperkenalkan kehidupan, pesan moral dan nilai akhlak mulia Nabi kepada dunia.

Serangan barbar atas kedutaan AS BUKAN MERUPAKAN AJARAN ISLAM. Menurut hukum dan moralitas Islam yang kita wajib pegang teguh adalaah bahwa DUTABESAR, PARA PEDAGANG atau INDIVIDU DALAM IKATAN PERJANJIAN yang masuk ke negara Muslim harus DIJAGA KESELAMATANNYA. Nabi SAW telah melarang membunuh UTUSAN (duta besar)."

(Sebarkan
Nasihat ULAMA' Dunia DR. Yusuf Qardhawi)
Sent via BlackBerry from T-Mobile


PESAN DARI IMAM SHAMSI ALI

Temans, saya baru sempat menonton film penghinaan terhadap Rasul/Islam itu. Tentu menyakitkan sebab bagi kita Rasul itu adalah tauladan atas segala tauladan. Dan tentunya pada tataran 'imani' terjaga dari prilaku 'syaithoni' yg ingin digambarkan pada film itu. Tapi saya kemudian mencoba berfikir, lalu terbetiklah dibenak saya hal-hal berikut:

1. Jangankan di film ini, dalam Kitab suci mereka sekalipun kan para nabi dan rasul telah menjadi bulan-bulanan dengan prilaku yg tdk manusiawi. Nabi Daud merebut menyeleweng dgn isteri prajuritnya yg lagi berperang membela agama. Nabi Sulaeman dgn imajinasi wanita2 cantik. Nabi Luth yg menghamili putri sulungnya...dst, dst. Jadi prilaku ini memang menjadi bagian dari 'kejiwaan' atau bahkan 'iman' mereka.

2. Ini semakin menguatkan keyakinan kita akan kebenaran Al-Qur'an bahwa 'istihzaa' (pengolok-olokkan) Rasul dan penentangan kepada cahaya Allah itu bersifat abadi. Ingat kata: 'yuriiduuna li yuthfiuu.." menggambarkaan bahwa upaya-upaya seperti ini berketerusan. Apapun umat lakukan saat ini, tidak akan menghentikan upaya-upaya ini. Dari Salman Rushdi, kartun Nabi di Denmark, pembakaran Al-Qur'an, hingga yg ini, hanya bukti kebenaran Al-Qur'an.

3. Pembuatan film ini yg sangat 'tidak profesional' ini menggambarkan bahwa cara-cara yg rasional tdk lagi mampu menghentikan laju pergerakan da'wah Islam. Sehingga dengan sendirinya, film ini merupakan bukti 'keputus asaan' terhadap perkembangan da'wah Islam yang semakin bersinar di berbagai penjuru dunia, bahkan di masyarakat yang paling 'hostile' sekalipun.

4. Mereka tahu bahwa orang-orang Islam sekrg ini mengalami masa 'emosi mental' yg tinggi karena berbagai hal, antara lain, konflik internal dan external, khususnya di Timur Tengah dan Asia Selatan. Dgn sengaja mereka menyulut emosi itu lalu dijadikanm justifikasi bahwa Islam memang mengajarkan 'kemarahan dan kekerasan'. Di sini, umat harus mampu mengendalikan diri dan bersikap sebaliknya. Dgn ini mereka akan semakin sakit hati...

Pada akhirnya, satu hal yang perlu disadari umat ini adalah bahwa setiap 'aksi dan reaksi' yang kita ambil dalam menyikapi apapun akan memiliki dampak kepada Islam/Muslim itu sendiri. Oleh karenanya, mari belajar untuk lebih pintar, arif, dan dewasa dalam melihat dan menyikapi berbagai hal, termasuk film tersebut. Wallahu a'lam!


2 comments:

sds said...
This comment has been removed by the author.
sds said...

Saya sangat senang dan mendukung atas terbitnya blog ini sebab turut andil membela agama islam tercinta dan disini ada kumpulan ceramah agama islam lucu...
mungkin juga bermanfaat buat antum semua https://www.youtube.com/channel/UCin69GlgyWpP_FyAMLuzjlQ/videos

Iftar Bersama di Masjid An Noor - 1435H

Muslims, guests break Ramadan fast together



By JoAnne Viviano
The Columbus Dispatch • Friday July 18, 2014 4:08 AM

See the Video by clicking this!

Alka Ahuja and her husband, Rajiv, had driven by the Noor Islamic Cultural Center in Hilliard many times, often wondering what went on inside the walls of the massive structure.

This week, they found out.

The Hilliard couple, Hindus originally from India, attended the center’s Experiencing Ramadan event on Wednesday. The interfaith gathering introduced non-Muslims to Islam and Ramadan, a 30-day period of reflection during which Muslims fast from sunrise to sunset.

“We felt there was so much hunger and demand on people’s part to learn about religious diversity as well as cultural diversity,” said Imran Malik, chairman of the board of the American Islamic Waqf, which oversees the center. “The more we know about each other, the safer, more-secure communities we can build together.”

Participants in the event received a brief overview of Islam, toured the center and watched evening prayers. They then were treated to a daily fast-breaking meal, also called an iftar, dining on dates, meats, rice, hummus, salad and baklava.

Youngsters who attend the mosque offered their own perspectives, telling the guests some of the foods used to break the fast in areas such as Somalia, Sri Lanka, India, Indonesia and Pakistan. The children spoke of family time, gathering at the mosque for late prayers, meals and fun, and waking before sunrise to eat.
One boy said the early meal is his favorite part of Ramadan, and his favorite food is scrambled eggs and pancakes.

“Thank God that IHOP’s open at 3 a.m.,” he quipped to laughter.

Among the guests was Collette Tucker of Dublin, who said she recently realized that she was taking her questions about Islam to her 11-year-old daughter, whose best friend is Muslim.

“I’d never experienced anything Muslim,” said Tucker, who attended with daughter Cameron and her 13-year-old son, Calvin. “I thought it was awesome. I wish I hadn’t waited so long.”

Malik said the center used to host a community meal annually but hadn’t in recent years because the dates of Ramadan are based on a lunar calendar and sunset times were late. The idea was reignited by the Safe Alliance of Interfaith Leaders, a group that seeks to increase cross-faith understanding in the Hilliard and Dublin areas.

More than 300 people responded to the invitation from Noor, where leaders are considering other ways to host interfaith gatherings throughout the year.

Christina Butler, president of the Interfaith Association of Central Ohio, said such events foster understanding.

“They bring a diverse group of people together for an evening of talking and sharing and certainly eating,” she said. “So it’s just another time to be with each other as human beings in a joyful atmosphere of celebration and sharing and learning about one another.”

Much like periods of fasting in Christian and Jewish traditions, Ramadan allows participants to experience how the needy might feel when they must live without food, water, shelter and clothing, Malik said. The observance ends with the Eid al-Fitr holiday, expected this year at sundown on July 28.

“The idea is you practice this on your own self for 30 days in a state of worship and individual form, and then take it to the next level and build the outreach, build the servicing of the community,” he said. “That is the actual essence of Ramadan.”

The Ahujas said they were intrigued enough by the event that they will consider returning to the center for an Islam 101 course.

“I didn’t know anything,” said Mrs. Ahuja, who was invited by a Muslim friend. “I think people need to know more about each other’s religions.”

jviviano@dispatch.com
@JoAnneViviano




Taraweeh di Masjid An Noor

QS At Tahrim - 6

Firman Allah SWT: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

Pertemuan Pertama

Alhamdulillah segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Selawat dan salam juga tercurah pada junjugan kita Rasulullah SAW dan keluarga beliau serta para sahabat, pada Sabtu sore, 29 Maret 2008 (21 Rabil’ ul Awal 1429H) kami grup Pengajian Columbus bertemu pertama kali dikediaman bapak Abbas dan ibu Fera Gitosuputro. Photo2 pada pertemuan pertama dapat dilihat pada link berikut: http://www.flickr.com/photos/22755746@N03/sets/72157604330688511/


Pada kesempatan mana kami mengundang juga Bapak Farizal, PhD dari Toledo. Beliau menyambut hangat undangan grup kami yang sekaligus menyumbangkan pesan2 ceramah beliau. Salah satu pesan beliau yaitu selain mengaji dan berdoa serta bertukar fikiran bersama, jadikanlah pula tempat pertemuan pengajian kita sebagai wadah memperkokoh tali silahturahmi sesama muslim. Jazakumullah khairan kathira pak Farizal atas wejangan2nya.